Blog refleksi kehidupan dan kisah inspiratif yang mengangkat pengalaman hidup, perjalanan batin manusia, sudut pandang psikologis, serta proses belajar memahami dan berdamai dengan diri sendiri.
tugas bunsay
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
1.LIST KEMANDIRIAN
untuk anak:
**toilet training
**makan sendiri
**bereskan mainan
Dari Luka Menjadi Cahaya Di sebuah rumah kecil berdinding papan yang mulai lapuk dimakan usia, hiduplah seorang ibu bernama Siti bersama ketiga anaknya. Sejak ditinggal suami yang pergi tanpa kabar, Siti harus menanggung beban hidup seorang diri. Pekerjaan serabutan seperti mencuci pakaian tetangga, berjualan gorengan di pinggir jalan, hingga mengumpulkan barang bekas ia jalani tanpa rasa malu. Namun meski berjuang siang malam, uang yang ia dapatkan hampir tak pernah cukup untuk membeli beras, apalagi untuk biaya sekolah anak-anaknya. Lebih menyakitkan lagi, saudara yang dulu sering berjanji akan saling membantu justru berpaling. Teman-teman dekat yang dulu tertawa bersamanya perlahan menjauh, seolah takut tertular kesusahan. Bahkan tetangga yang setiap hari melihat perjuangannya, hanya bisa memandang dengan mata sinis, seakan kemiskinan Siti adalah aib yang menular. Siti sering menangis di sajadahnya, bertanya dalam doa, “Ya Allah, sampai kapan aku kuat begini?” Hari-hari ...
Kisah Perjalanan Seorang Penjual Somay Menemukan Makna Sukses dan Berbagi BAB 1 Rangga dan Pagi yang Tidak Pernah Menunggu Pagi selalu datang dengan cara yang sama bagi Rangga—tanpa menanyakan kesiapan, tanpa peduli pada lelah yang belum sepenuhnya pulih. Saat langit masih abu-abu dan udara dingin menyelinap ke sela-sela tulang, ia sudah terbangun. Bukan karena alarm, melainkan karena kebiasaan. Tubuhnya seperti memiliki jam sendiri, jam yang disetel oleh kebutuhan hidup. Di sudut rumah kontrakan sederhana, Rangga duduk sejenak di tepi kasur. Tangannya meraih air putih, meneguknya perlahan, lalu menghela napas panjang. Ada hari-hari di mana bangun pagi terasa ringan, namun ada pula pagi yang berat, seolah hidup menempel di pundak sebelum ia sempat berdiri. Hari ini terasa seperti yang kedua. Ia bangkit, melipat selimut, lalu berjalan ke dapur kecil yang bahkan tak layak disebut dapur. Di sana, ia mulai rutinitas yang telah ia jalani bertahun-tahun: menyiapkan adonan somay. ...
Selama empat bulan mengikuti kelas menulis di Klip, perjalanan ini terasa seperti menapaki lorong panjang yang dipenuhi lampu-lampu kecil kadang terang, kadang redup, tapi selalu memandu langkah. Awal-awal mengikuti kelas, aku merasa canggung dan ragu. Kata-kata yang biasanya bebas mengalir kini terasa kaku dan penuh tekanan. Ada rasa malu saat membaca tulisan sendiri, takut dinilai salah atau kurang bagus. Namun, setiap minggu, dengan materi baru dan tugas menulis yang konsisten, rasa cemas itu perlahan berubah menjadi rasa penasaran. Di pertengahan perjalanan, rasa frustrasi sering muncul. Ide yang mengalir di kepala terasa sulit dituangkan ke kertas. Tapi di sinilah aku belajar arti kesabaran dan konsistensi. Diskusi dengan mentor dan teman sekelas memberi perspektif baru, kadang membuka mata bahwa setiap tulisan, sekecil apa pun, memiliki nilai. Ada rasa hangat ketika mendapat komentar positif, dan rasa ingin memperbaiki ketika mendapat masukan konstruktif. Di bulan terakhir, peras...