Selama empat bulan mengikuti kelas menulis di Klip, perjalanan ini terasa seperti menapaki lorong panjang yang dipenuhi lampu-lampu kecil kadang terang, kadang redup, tapi selalu memandu langkah. Awal-awal mengikuti kelas, aku merasa canggung dan ragu. Kata-kata yang biasanya bebas mengalir kini terasa kaku dan penuh tekanan. Ada rasa malu saat membaca tulisan sendiri, takut dinilai salah atau kurang bagus. Namun, setiap minggu, dengan materi baru dan tugas menulis yang konsisten, rasa cemas itu perlahan berubah menjadi rasa penasaran. Di pertengahan perjalanan, rasa frustrasi sering muncul. Ide yang mengalir di kepala terasa sulit dituangkan ke kertas. Tapi di sinilah aku belajar arti kesabaran dan konsistensi. Diskusi dengan mentor dan teman sekelas memberi perspektif baru, kadang membuka mata bahwa setiap tulisan, sekecil apa pun, memiliki nilai. Ada rasa hangat ketika mendapat komentar positif, dan rasa ingin memperbaiki ketika mendapat masukan konstruktif. Di bulan terakhir, peras...