Kisah Priska: Ibu Muda dengan Tiga Anak Sakit-sakitan yang Bertahan 5 Tahun Saat Suami Merantau
“Perjalanan seorang ibu yang merasa janda bersuami, berjuang sendirian menghadapi anak-anak yang sakit hampir berjamaah, hingga akhirnya menemukan titik balik kebangkitan keluarga kecilnya.”
Opening Kisah
Tidak semua ibu menangis dengan suara.
Sebagian menangis dalam diam, di sela malam, ketika rumah akhirnya sunyi dan anak-anak tertidur—meski dengan napas yang belum benar-benar lega.
Priska adalah salah satunya.
Ia ibu muda dengan tiga anak yang jarak usianya berdekatan.
Dan hampir selalu, ketika satu anak jatuh sakit, dua lainnya menyusul.
Seperti berjamaah dalam ujian yang sama—demam, batuk, napas berat, dan tangisan kecil yang membuat malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Di rumah kecil itu, Priska belajar mengenali rasa takut dari sentuhan dahi anaknya.
Ia hafal betul arti panas yang biasa dan panas yang berbahaya.
Ia tahu kapan harus berharap dan kapan harus pasrah sambil berdoa.
Suaminya bekerja di luar negeri.
Sudah hampir lima tahun.
Dan sejak hari keberangkatan itu, Priska tak hanya menjadi seorang ibu—
ia menjadi segalanya.
Penjaga malam saat anak sesak napas.
Penguat diri ketika tabungan menipis.
Dan penopang rumah tangga yang harus tetap berdiri meski hatinya sering runtuh.
Banyak orang mengira hidupnya baik-baik saja.
Bukankah suaminya bekerja jauh demi masa depan?
Namun tak banyak yang tahu,
bahwa Priska sering merasa seperti janda bersuami—
menjalani peran istri, ibu, dan tulang punggung keluarga seorang diri.
Kisah ini bukan tentang keluhan.
Bukan pula tentang menyalahkan keadaan.
Ini adalah kisah tentang bertahan.
Tentang seorang ibu yang terus berjalan meski hidup tak memberinya jeda.
Tentang luka yang disimpan rapi, dan doa yang tak pernah benar-benar berhenti.
Dan dari rumah kecil itulah,
sebuah titik balik perlahan tumbuh—
tanpa Priska sadari, justru dari ujian yang paling melelahkan.
Bab 1 — Ibu Muda yang Tak Pernah Benar-Benar Istirahat
Pagi di rumah kecil itu hampir selalu dimulai sebelum matahari benar-benar terbit.
Bukan oleh suara alarm.
Bukan oleh kokok ayam.
Tetapi oleh batuk kecil yang terdengar dari kamar sebelah.
Priska membuka mata dengan refleks yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Bahkan sebelum otaknya sepenuhnya sadar, tangannya sudah terulur meraba sisi tempat tidur yang kosong. Dingin. Seperti biasa.
Suaminya jauh di negeri orang. Sudah hampir lima tahun.
Belum sempat ia duduk, batuk itu disusul suara rengekan lirih.
“Bunda…”
Suara anak keduanya.
Priska menarik napas panjang, menahan rasa lelah yang bahkan belum sempat ia sadari sejak semalam. Tubuhnya masih terasa berat karena baru terpejam dua jam lalu. Anak bungsunya demam sejak tengah malam, panasnya naik turun seperti ombak yang tak bisa ditebak.
Ia berdiri. Kakinya menyentuh lantai yang dingin.
Dunia belum sepenuhnya terang, tapi hari Priska sudah dimulai.
Di kamar sebelah, tiga anak kecil tidur berjejer. Jarak usia mereka berdekatan. Belum genap dua tahun dari satu ke yang lain. Banyak orang dulu memuji, “Wah, rezeki dekat-dekat.” Tapi tak banyak yang benar-benar mengerti bagaimana rasanya membesarkan tiga anak kecil dalam waktu yang hampir bersamaan.
Apalagi ketika mereka… sering sakit bersama.
Priska mendekati anak bungsunya. Dahi kecil itu kembali hangat. Ia menempelkan pipinya, memastikan suhu yang tak pernah bisa ia ukur hanya dengan insting seorang ibu.
Hangatnya berbeda.
Ini bukan sekadar hangat biasa.
Anak pertama ikut terbatuk, suara seraknya membuat dada Priska seperti diremas. Lalu anak kedua berguling, mengeluh karena hidungnya tersumbat.
Seperti berjamaah.
Kalau satu sakit, dua lainnya hampir pasti menyusul.
Pernah suatu waktu, ketiganya demam dalam satu malam. Termometer bergantian berpindah tangan. Obat sirup berjajar di meja. Uap nebulizer mengepul di ruang tengah yang sempit. Dan Priska berdiri di antara semuanya, merasa kecil dan sendirian.
Pagi itu pun tak jauh berbeda.
Ia menggendong si bungsu sambil menyiapkan air hangat. Dengan satu tangan ia meraba-raba lemari obat. Dengan bahu ia menopang tubuh mungil yang rewel. Dengan hati ia berdoa pelan-pelan.
“Ya Allah… jangan lama-lama ya sakitnya…”
Kalimat itu sudah seperti zikir yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Banyak orang mengira menjadi ibu rumah tangga itu sederhana.
Bangun pagi. Masak. Membersihkan rumah. Mengurus anak.
Tapi bagi Priska, setiap hari adalah medan perang kecil yang tak terlihat orang.
Ia tak pernah benar-benar tidur nyenyak. Bahkan ketika tubuhnya rebah, telinganya tetap siaga. Sedikit suara berubah, sedikit napas terdengar berat, ia akan terbangun.
Tubuhnya lelah.
Tapi pikirannya tak pernah benar-benar berhenti.
Pernah suatu malam, saat ketiga anaknya akhirnya tertidur bersamaan, Priska duduk di sudut dapur. Lampu redup menerangi wajahnya yang pucat. Ia memeluk lututnya sendiri.
Sunyi.
Hanya suara kipas angin dan detak jam dinding.
Di saat seperti itulah rasa lelahnya benar-benar terasa.
Bukan hanya lelah fisik.
Tapi lelah yang lebih dalam. Lelah yang tidak terlihat.
Ia masih muda. Usianya belum genap tiga puluh. Teman-temannya banyak yang masih bisa nongkrong, bekerja, atau sekadar menikmati waktu untuk diri sendiri. Media sosial penuh dengan foto keluarga bahagia, liburan, rumah baru, pencapaian.
Priska?
Ia hanya berharap hari itu tidak ada yang masuk IGD lagi.
Kadang ia bertanya dalam hati, pelan-pelan, takut kalau pikirannya sendiri bisa menghakimi dirinya.
“Kenapa anak-anakku sering sekali sakit?”
Ia sudah menjaga kebersihan.
Ia memasak sendiri.
Ia memastikan gizi mereka.
Ia hampir tak pernah membeli jajan sembarangan.
Tapi sakit tetap datang.
Dan setiap kali sakit datang, biaya ikut datang.
Uang dari suaminya memang rutin dikirim. Tidak pernah telat. Tapi entah kenapa selalu terasa kurang. Bukan karena gaya hidup. Bukan karena keinginan yang aneh-aneh.
Biaya dokter.
Obat.
Kontrol ulang.
Vitamin khusus.
Susu khusus.
Tes laboratorium.
Habis sebelum bulan berganti.
Kadang Priska menatap mutasi rekeningnya lama-lama. Ia menghitung ulang. Mengurangi. Menyusun ulang anggaran. Tapi hasilnya tetap sama.
Pas-pasan.
Banyak yang heran.
“Lho, suamimu kerja di luar negeri kan? Harusnya enak dong.”
Priska hanya tersenyum.
Tak semua cerita bisa dijelaskan panjang lebar.
Tak semua luka harus diumbar ke dunia.
Menjelang siang, setelah anak-anak minum obat dan sedikit membaik, Priska mulai membersihkan rumah. Sambil menyapu, ia sesekali berhenti karena batuk kecil terdengar lagi.
“Pelan-pelan ya, Nak…”
Ia mengusap punggung anak pertamanya yang duduk lesu.
Tak ada asisten rumah tangga. Tak ada ibu atau mertua yang tinggal dekat. Semuanya ia lakukan sendiri.
Saat anak-anak bermain pelan di ruang tengah, Priska ke dapur menyiapkan makan siang. Tangan kirinya mengaduk sup. Tangan kanannya sesekali mengelap keringat. Kepalanya penuh dengan daftar hal yang harus dilakukan.
Belum lagi cucian yang menumpuk karena semalam ia tak sempat menyentuh mesin cuci.
Belum lagi laporan sekolah anak pertama yang harus ia tanda tangani.
Belum lagi pesan dari suaminya yang belum sempat ia balas.
Suaminya sering bertanya, “Kamu capek nggak?”
Dan hampir selalu, jawabannya sama.
“Enggak kok. Aman.”
Padahal kadang ia ingin menjawab jujur.
“Iya. Aku capek sekali.”
Tapi ia tahu suaminya pun lelah bekerja di negeri orang. Jauh dari keluarga. Menahan rindu. Menahan sunyi.
Maka Priska memilih menahan sedikit lagi.
Sore hari adalah waktu paling berat.
Tenaga anak-anak mulai turun. Demam biasanya naik lagi. Rewel makin menjadi. Nafsu makan turun.
Dan di jam-jam itulah Priska paling sering merasa hampir runtuh.
Pernah suatu sore, anak keduanya muntah setelah minum obat. Anak pertama ikut menangis karena takut. Si bungsu terbangun dan ikut menjerit.
Tiga tangisan bersamaan.
Priska berdiri di tengah ruangan kecil itu. Tangan gemetar. Mata panas. Ia ingin ikut menangis keras-keras.
Tapi tidak bisa.
Siapa yang akan menenangkan mereka kalau ia ikut tumbang?
Ia menarik napas panjang. Satu. Dua. Tiga.
Lalu ia mulai lagi.
Membersihkan muntah. Menggendong yang kecil. Mengusap yang besar. Membisikkan doa.
Di luar sana, mungkin orang melihatnya biasa saja. Ibu muda dengan tiga anak. Tidak tampak istimewa.
Tapi di dalam rumah kecil itu, Priska adalah benteng terakhir.
Ia yang memastikan anak-anak tetap minum.
Ia yang memastikan mereka tetap tertawa meski lemah.
Ia yang memastikan rumah tetap berdiri walau hatinya sering retak.
Malam kembali datang.
Setelah anak-anak akhirnya tertidur, Priska duduk di tepi tempat tidur. Lampu dimatikan. Hanya cahaya dari luar jendela yang samar-samar masuk.
Ia menatap wajah ketiga anaknya satu per satu.
Dalam tidur, mereka tampak tenang. Tak ada batuk. Tak ada tangis.
Wajah-wajah kecil yang polos itu membuat dadanya sesak—bukan karena lelah, tapi karena cinta.
Ia sadar, mungkin inilah alasan ia masih berdiri sampai sekarang.
Bukan karena ia kuat.
Tapi karena ia tidak punya pilihan selain kuat.
Air matanya jatuh pelan. Tidak deras. Hanya mengalir tanpa suara.
“Aku nggak apa-apa, Ya Allah… asal mereka sehat…”
Doanya sederhana.
Tidak meminta rumah besar.
Tidak meminta harta berlimpah.
Hanya kesehatan anak-anaknya.
Di malam-malam seperti itu, Priska belajar satu hal penting:
Istirahat baginya bukan tentang tidur lama.
Istirahat adalah ketika anak-anaknya tidak demam.
Istirahat adalah ketika rumah sunyi tanpa suara batuk.
Istirahat adalah ketika hatinya tidak dihantui rasa takut kehilangan.
Dan itu jarang sekali terjadi.
Menjadi ibu muda dengan tiga anak yang jaraknya berdekatan bukanlah kisah yang selalu manis. Ada hari-hari yang penuh tawa. Tapi lebih banyak hari yang penuh perjuangan.
Namun Priska tak pernah benar-benar menyerah.
Ia mungkin lelah.
Ia mungkin menangis.
Ia mungkin merasa sendirian.
Tapi setiap pagi, ketika batuk kecil itu kembali terdengar,
ia tetap bangun.
Karena ia tahu,
di dunia kecil miliknya,
ia adalah segalanya.
Dan meski ia tak pernah benar-benar istirahat,
hatinya tetap memilih bertahan.
Tanpa tepuk tangan.
Tanpa sorotan.
Tanpa banyak yang mengerti.
Hanya seorang ibu.
Yang mencintai tanpa batas.
Dan kisahnya… baru saja dimulai.
Bab 2 — Ketika Satu Anak Sakit, Dunia Ikut Goyah
Tidak ada yang lebih cepat membuat jantung seorang ibu berhenti sejenak selain satu kata: sakit.
Bagi Priska, kata itu bukan sekadar kondisi tubuh.
Ia adalah pertanda bahwa hari-hari ke depan mungkin akan kembali berat.
Ia adalah awal dari malam-malam panjang tanpa tidur.
Ia adalah alarm dalam hati yang selalu berbunyi terlalu keras.
Semuanya sering dimulai dari satu anak.
Kadang hanya batuk kecil.
Kadang hanya hidung meler.
Kadang hanya wajah yang tampak sedikit pucat.
“Tunggu dulu… ini kenapa?”
Priska selalu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia sudah terbiasa. Ia sudah sering. Tapi entah mengapa, setiap kali tanda itu muncul, hatinya tetap berdebar seperti pertama kali.
Dan hampir selalu, kekhawatiran itu tidak salah.
Anak pertama mulai demam sore hari. Priska menempelkan termometer, menunggu angka berhenti bergerak. Angkanya naik perlahan. Tidak tinggi, tapi cukup membuat dadanya mengeras.
Ia memberi obat. Mengompres. Menyuruh istirahat.
Malamnya, anak kedua mulai rewel.
“Bunda… kepala aku pusing…”
Priska memejamkan mata sesaat. Bukan karena marah. Bukan karena lelah saja. Tapi karena ia sudah tahu arah cerita ini.
Dan benar saja.
Menjelang tengah malam, anak bungsunya ikut panas. Napasnya lebih berat. Dada kecilnya naik turun lebih cepat dari biasanya.
Tiga anak.
Satu demi satu.
Seperti domino yang jatuh berurutan.
Saat itulah dunia Priska benar-benar goyah.
Malam-malam seperti itu terasa berbeda.
Waktu berjalan lambat, tapi pikirannya berlari ke mana-mana. Ia mondar-mandir dari satu anak ke anak lain. Tangannya tak pernah diam. Mengusap dahi. Mengganti kompres. Mengatur posisi tidur.
Ia takut tidur.
Takut kalau lengah sedikit saja, sesuatu terjadi.
Pernah suatu malam, Priska tertidur duduk sambil memeluk anak bungsunya. Hanya beberapa menit. Tapi ketika ia terbangun, napas anak itu terdengar berat dan berbunyi.
Panik.
Ia mengguncang pelan. Memanggil nama anaknya berulang kali. Jantungnya berdegup kencang sampai rasanya nyeri.
“Bangun, Nak… bangun… lihat bunda…”
Anak itu membuka mata perlahan. Menangis pelan. Napasnya masih berat, tapi ada respons.
Priska menangis saat itu juga. Tangis yang pecah begitu saja. Bukan karena lemah, tapi karena takut yang sudah terlalu penuh.
Dalam momen-momen seperti itu, Priska sering merasa sangat kecil.
Ia bukan dokter.
Ia bukan perawat.
Ia hanya ibu.
Ibu yang harus mengambil keputusan sendiri.
Apakah ini masih bisa ditangani di rumah?
Apakah harus ke rumah sakit sekarang?
Apakah uangnya cukup kalau harus rawat inap?
Apakah ini berbahaya?
Tak ada yang bisa ia tanya secara langsung.
Tak ada bahu tempat ia bersandar.
Suaminya jauh.
Ia memang bisa menelepon. Tapi bagaimana menjelaskan kepanikan melalui layar kecil? Bagaimana membagi rasa takut yang bahkan sulit ia rangkai dengan kata?
Subuh sering menjadi waktu paling sunyi sekaligus paling menegangkan.
Ketika dunia luar masih gelap, Priska duduk di ruang tengah. Anak-anaknya terbaring di kasur tipis yang digelar. Uap obat memenuhi udara. Bau khas obat anak-anak bercampur dengan bau kopi dingin yang tak sempat diminumnya.
Ia menatap satu per satu wajah kecil itu.
Kadang ia berpikir—dengan rasa bersalah yang besar—
“Kalau hanya satu anak mungkin aku masih kuat…”
Lalu pikirannya langsung memotong sendiri.
“Astagfirullah.”
Ia mencintai mereka semua dengan utuh. Tapi ia juga manusia. Dan manusia boleh merasa lelah.
Saat anak-anak sakit bersamaan, segalanya terasa berlipat ganda. Bukan hanya tenaga yang terkuras, tapi juga rasa takut yang menumpuk.
Tak jarang, satu sakit belum sembuh, yang lain sudah mulai parah.
Seolah hidup tak memberinya jeda.
Pagi hari setelah malam panjang biasanya datang tanpa ampun.
Tubuh Priska pegal. Matanya perih. Kepalanya berat. Tapi hari tidak peduli. Anak-anak tetap butuh makan. Rumah tetap harus berjalan.
Ia memasak sambil menggendong. Membersihkan sambil menenangkan tangisan. Menyuapi satu anak sambil mengawasi yang lain.
Dan di sela-sela itu, pikirannya terus menghitung.
Obat yang hampir habis.
Biaya dokter yang harus disiapkan.
Uang yang tinggal sekian.
Ia pernah menunda berobat sehari, hanya karena ingin memastikan uangnya cukup untuk semuanya. Keputusan yang membuatnya menyesal semalaman penuh karena anaknya semakin lemah.
Sejak itu, ia belajar satu hal pahit:
Menjadi ibu miskin bukan hanya tentang tidak punya uang.
Tapi tentang harus memilih di antara rasa takut dan kemampuan.
Dan pilihan itu selalu menyakitkan.
Yang paling menyiksa bukan hanya sakitnya anak-anak.
Tapi rasa bersalah yang datang diam-diam.
Setiap kali anaknya sakit, Priska selalu bertanya pada dirinya sendiri.
“Apa aku kurang menjaga?”
“Apa masakanku salah?”
“Apa aku lalai?”
Ia menelusuri ulang hari-harinya. Mengingat apa yang mereka makan. Ke mana mereka pergi. Apa yang mungkin terlewat.
Padahal ia sudah melakukan yang terbaik.
Tapi rasa bersalah pada ibu tidak pernah logis.
Ia datang meski tidak diundang.
Ia menetap meski tidak seharusnya.
Priska pernah duduk di kamar mandi, menangis pelan sambil menutup mulutnya dengan handuk. Takut suaranya terdengar anak-anak.
Ia merasa gagal.
Gagal menjaga mereka tetap sehat.
Gagal memberikan hidup yang lebih baik.
Gagal menjadi ibu yang “sempurna”.
Padahal di luar sana, tak ada ibu yang benar-benar sempurna.
Siang hari, ketika anak-anak akhirnya tertidur karena lelah dan obat, Priska sering duduk memandangi mereka lama sekali.
Dalam tidur, wajah mereka tampak damai. Seolah tak ada apa-apa. Seolah malam tadi bukan apa-apa.
Di momen itulah, rasa takutnya berubah menjadi rasa syukur yang sangat halus.
“Masih bernapas… masih ada…”
Ia menyentuh dada kecil yang naik turun itu, memastikan.
Bagi orang lain, mungkin ini terlihat berlebihan.
Tapi bagi Priska, inilah cara ia bertahan.
Memastikan.
Mengulang-ulang syukur kecil.
Karena ia tahu, tidak semua ibu seberuntung itu.
Sore kembali datang.
Dan seperti biasanya, panas sering naik lagi.
Anak pertama meringkuk. Anak kedua mulai rewel. Anak bungsu menempel tanpa mau lepas.
Priska menelan ludah. Tenaganya hampir habis. Tapi ia tetap tersenyum. Senyum yang dipaksakan, tapi penuh cinta.
“Sebentar ya, Nak… sebentar lagi sembuh…”
Ia mengucapkannya bukan hanya untuk anak-anak. Tapi juga untuk dirinya sendiri.
Kadang ia membayangkan hidup yang berbeda.
Hidup di mana anak-anak jarang sakit.
Hidup di mana ia bisa tidur nyenyak.
Hidup di mana ia tidak selalu cemas.
Tapi bayangan itu cepat ia tepis.
Karena kenyataan menuntutnya tetap berdiri.
Malam itu, setelah anak-anak kembali tertidur, Priska duduk sendirian di ruang tengah. Ia menatap ponselnya. Ada pesan dari suaminya.
“Gimana anak-anak?”
Tangannya berhenti di atas layar. Ia ingin menulis semuanya. Semua ketakutan. Semua kelelahan. Semua air mata.
Tapi yang ia kirim hanya satu kalimat.
“Masih demam sedikit, tapi insyaAllah aman.”
Ia mematikan layar. Menarik napas panjang.
Ia tidak berbohong.
Ia hanya memilih menyimpan sisanya.
Karena ia tahu, dunia tidak akan berhenti hanya karena ia lelah.
Dan karena ia adalah ibu.
Ibu yang ketika satu anak sakit, dunia memang ikut goyah—
tapi tetap harus berdiri.
Tetap harus kuat.
Meski dengan lutut gemetar.
Meski dengan hati yang sering ingin menyerah.
Dan dari situlah, perjuangan Priska terus berlanjut…
menuju ujian berikutnya yang lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih menyakitkan.
Bab 3 — Suami di Negeri Orang, Ibu Berjuang Sendirian
Hari keberangkatan itu masih Priska ingat dengan jelas.
Bandara penuh orang. Tangis, pelukan, doa, dan janji-janji yang diucapkan dengan keyakinan yang besar.
“Cuma sebentar,” kata suaminya waktu itu.
“Dua tahun cepat kok. Nanti kita kumpul lagi, hidup lebih enak.”
Priska mengangguk. Ia tersenyum. Ia percaya.
Di pelukan terakhir itu, ia menahan air mata. Ia ingin terlihat kuat. Ia ingin suaminya berangkat tanpa beban.
Ia tak pernah membayangkan bahwa “sebentar” bisa terasa sepanjang ini.
Dua tahun berubah menjadi tiga.
Tiga tahun menjadi hampir lima.
Dan di antara waktu yang terus berjalan itu, Priska belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun:
Menjadi istri dari kejauhan adalah ujian yang sunyinya berbeda.
Awalnya semua terasa ringan.
Video call hampir setiap malam.
Pesan-pesan panjang penuh rindu.
Rencana masa depan yang dibicarakan dengan semangat.
“Kalau pulang nanti kita renov rumah.”
“Nanti anak-anak sekolah di tempat yang bagus.”
“Kita nabung ya, biar hidup lebih enak.”
Priska menyimpan semua rencana itu di dalam hatinya seperti harta karun.
Ia sabar.
Ia menunggu.
Ia percaya pada perjuangan suaminya.
Tapi jarak adalah sesuatu yang pelan-pelan mengikis tanpa terasa.
Waktu berbeda.
Jam kerja panjang.
Sinyal yang sering tak bersahabat.
Video call yang dulu satu jam, lama-lama menjadi lima belas menit.
Pesan panjang berubah jadi singkat.
Kadang hanya, “Udah makan?”
“Atur ya di rumah.”
Priska mengerti. Ia tahu suaminya lelah. Ia tahu bekerja di negeri orang tidak mudah.
Tapi ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
Rasa kosong.
Ia masih istri.
Tapi ia hidup seperti sendirian.
Ketika anak pertama sakit dan harus dibawa ke rumah sakit malam-malam, Priska mengemudi sendiri. Jalanan sepi. Lampu merah terasa lama.
Di kursi belakang, anaknya terbaring lemah. Napasnya berat.
Tangannya gemetar memegang setir.
Ia ingin sekali ada seseorang di sampingnya.
Seseorang yang bisa berkata, “Tenang, aku di sini.”
Tapi kursi penumpang kosong.
Ia menelepon suaminya. Tidak tersambung. Beda waktu.
Sesampainya di IGD, ia berdiri sendiri mengurus administrasi. Menandatangani formulir. Mendengarkan penjelasan dokter.
Semua sendiri.
Dan di tengah-tengah itu, ia sadar sesuatu yang menyakitkan:
Ia merasa seperti janda… padahal masih bersuami.
Bukan karena suaminya meninggalkan tanggung jawab. Tidak.
Uang tetap dikirim.
Kabar tetap ada.
Tapi kehadiran fisik itu tak tergantikan.
Tidak ada yang bisa menggantikan tangan yang menggenggam ketika hati gemetar.
Kadang Priska iri melihat keluarga lain.
Ayah yang menjemput anaknya di sekolah.
Suami yang membantu menggendong anak di klinik.
Pasangan yang berjalan berdampingan membawa belanjaan.
Iri yang ia simpan dalam-dalam.
Ia tidak ingin menjadi istri yang tidak bersyukur.
Ia tahu banyak orang lebih sulit hidupnya.
Ia tahu suaminya bekerja keras untuk keluarga.
Tapi manusia tetaplah manusia.
Ada malam-malam ketika ia ingin bersandar.
Bukan hanya secara finansial.
Tapi secara emosional.
Namun setiap kali ia hampir mengeluh, ia mengingat wajah suaminya di bandara dulu.
Keyakinan itu.
Dan ia kembali menelan semuanya.
Yang paling berat adalah saat anak-anak bertanya.
“Bunda, ayah kapan pulang?”
Pertanyaan sederhana.
Tapi jawabannya selalu terasa berat.
“Sebentar lagi ya, Nak.”
Sebentar lagi.
Kalimat itu sudah ia ucapkan berulang-ulang sampai ia sendiri tak tahu lagi maknanya.
Anak bungsunya bahkan tidak terlalu mengenal ayahnya. Ia mengenal wajah di layar ponsel, bukan pelukan nyata.
Kadang saat video call, anak-anak justru malu. Tidak dekat. Tidak spontan.
Priska melihat itu dan hatinya terasa retak sedikit demi sedikit.
Ia takut jarak bukan hanya memisahkan tubuh,
tapi juga perasaan.
Ada satu malam yang tidak akan pernah ia lupakan.
Anak kedua demam tinggi. Hampir 40 derajat. Kejang ringan. Priska panik luar biasa. Ia menangis sambil menggendong, berusaha tetap tenang.
Setelah keadaan lebih stabil, ia duduk di lantai ruang tengah. Tubuhnya gemetar.
Ia menelepon suaminya.
Kali ini tersambung.
Suaminya mendengarkan. Ia juga panik. Tapi yang bisa ia lakukan hanya berkata dari kejauhan.
“Yang sabar ya… kamu kuat kok.”
Kalimat itu baik.
Tapi terasa jauh.
Priska tidak butuh diingatkan bahwa ia kuat.
Ia butuh ditemani ketika ia hampir tidak kuat.
Setelah telepon ditutup, ia menatap dinding lama sekali.
Ia sadar, perjuangan ini bukan hanya soal uang.
Ini soal kehilangan momen.
Kehilangan kebersamaan.
Kehilangan hari-hari yang tak bisa diulang.
Tahun keempat berjalan.
Hidup mereka tidak benar-benar berubah.
Tidak ada rumah baru.
Tidak ada tabungan besar.
Tidak ada kemajuan signifikan.
Yang ada hanya rutinitas yang sama.
Sakit.
Sembuh.
Sakit lagi.
Uang datang dan pergi.
Kadang Priska bertanya dalam hati, dengan suara yang sangat pelan agar tidak terdengar seperti keluhan.
“Kenapa ya… kok seperti tidak ada hasilnya?”
Ia bukan ingin mewah.
Ia hanya ingin hidup sedikit lebih lapang.
Tapi hidup terasa stagnan.
Dan dalam stagnasi itu, rasa sepi semakin terasa.
Priska mulai belajar mematikan perasaannya.
Ia tidak lagi terlalu berharap video call panjang.
Ia tidak lagi terlalu banyak bercerita detail.
Ia hanya menyampaikan garis besar.
Karena ia lelah berharap terlalu banyak.
Ia fokus pada anak-anak.
Ia fokus pada hari ini.
Kadang, saat malam sunyi dan semua tertidur, ia menatap langit dari jendela kecil kamar. Ia membayangkan suaminya juga melihat langit yang sama di negeri orang.
Langit yang sama.
Tapi jarak yang berbeda.
Ia berdoa.
“Ya Allah… jaga dia di sana. Dan jaga hatiku di sini.”
Ia takut bukan hanya jarak fisik.
Ia takut jarak hati.
Karena waktu bisa mengubah siapa saja.
Namun di balik semua rasa itu, ada satu hal yang tak pernah berubah.
Cinta.
Priska tetap mencintai suaminya. Ia tahu suaminya juga mencintainya.
Mereka hanya sedang diuji dalam bentuk yang berbeda.
Ujian kesabaran.
Ujian komunikasi.
Ujian kepercayaan.
Dan Priska memilih bertahan.
Bukan karena tidak punya pilihan.
Tapi karena ia percaya pada janji dulu.
Janji untuk bersama, dalam keadaan mudah maupun sulit.
Meski “bersama” itu untuk sementara berarti berjauhan.
Di suatu sore yang tenang, setelah anak-anak tertidur, Priska menerima pesan singkat dari suaminya.
“Kontrakku hampir selesai. InsyaAllah tahun depan aku pulang.”
Ia membaca kalimat itu berkali-kali.
Air matanya jatuh pelan.
Bukan karena sedih.
Tapi karena harapan yang lama terkubur, perlahan bangkit lagi.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar.
Lima tahun adalah anak-anak yang tumbuh tanpa pelukan ayah setiap hari.
Lima tahun adalah istri yang belajar kuat sendirian.
Tapi mungkin…
mungkin sebentar lagi semuanya berubah.
Dan di antara rasa rindu yang panjang itu, Priska menyadari satu hal:
Ia memang berjuang sendirian selama ini.
Tapi bukan berarti ia benar-benar sendiri.
Ada doa yang selalu menyertai.
Ada cinta yang meski jauh, tetap ada.
Dan ada harapan yang belum selesai.
Babak baru akan segera dimulai.
Namun sebelum kebahagiaan itu datang, ada satu fase lagi yang harus Priska lewati—
fase paling sunyi,
ketika ia hampir kehilangan dirinya sendiri.
Bab 4 — Janda Bersuami dan Luka yang Tak Terucap
Tidak ada status resmi yang berubah dalam hidup Priska.
Ia masih istri.
Masih memiliki suami yang sah.
Masih dipanggil “Bu” oleh tetangga dengan senyum sopan.
Namun di dalam dirinya, ada perasaan yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang:
Ia merasa seperti janda… yang masih bersuami.
Bukan karena ditinggalkan.
Bukan karena dikhianati.
Tapi karena terlalu lama berjalan sendirian.
Perasaan itu datang pelan-pelan.
Tidak langsung.
Tidak tiba-tiba.
Ia tumbuh dari hari ke hari ketika Priska mengambil keputusan sendiri.
Ketika ia menghadapi sakit anak sendirian.
Ketika ia menenangkan tangis tanpa ada bahu untuk bersandar.
Awalnya ia menolak perasaan itu.
“Ini cuma capek,” katanya pada diri sendiri.
“Nanti juga hilang.”
Tapi perasaan itu justru makin nyata.
Saat ada masalah di rumah, ia tidak lagi refleks ingin bercerita.
Saat ada kabar baik, ia juga tak langsung ingin berbagi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena terlalu sering merasa… sendirian.
Ada satu malam yang menjadi titik sadar bagi Priska.
Malam itu hujan turun deras. Anak-anak sudah tertidur setelah hari yang melelahkan. Priska duduk di ruang tengah, lampu sengaja ia matikan setengah, menyisakan cahaya temaram.
Ia menatap foto keluarga lama—foto sebelum suaminya berangkat merantau.
Mereka tersenyum.
Terlihat utuh.
Terlihat dekat.
Dan tanpa ia sadari, air mata jatuh satu-satu.
Ia menangis bukan karena rindu saja.
Tapi karena kehilangan versi dirinya yang dulu.
Dulu ia bisa mengeluh tanpa takut dianggap lemah.
Dulu ia bisa marah tanpa harus menelan sendiri.
Dulu ia bisa merasa “dibagi”.
Sekarang, semua ia simpan sendiri.
Ia sadar, selama ini ia tidak hanya menahan lelah.
Ia menahan luka batin.
Priska tidak pernah benar-benar bercerita kepada siapa pun.
Ia takut dianggap mengeluh.
Ia takut dibilang tidak bersyukur.
Ia takut dicap istri yang lemah.
Maka ia memilih diam.
Di luar, ia terlihat kuat.
Di dalam, ia sering rapuh.
Ada hari-hari ketika ia bangun dengan dada sesak.
Bukan karena sakit fisik.
Tapi karena beban yang terlalu lama dipikul sendirian.
Ia tetap memasak.
Tetap tersenyum.
Tetap mengurus anak-anak.
Tapi ada bagian dari dirinya yang kosong.
Dan kekosongan itu menakutkan.
Yang paling menyakitkan adalah saat ia menyadari, ia mulai terbiasa.
Terbiasa tidak ditemani.
Terbiasa mengambil keputusan sendiri.
Terbiasa menangis sendirian.
Kebiasaan itu seperti tembok.
Pelindung sekaligus penjara.
Ia takut, ketika suaminya pulang nanti,
ia tidak lagi tahu cara meminta ditemani.
Takut terlalu mandiri.
Takut terlalu kuat.
Takut terlalu lama sendirian.
Priska tidak pernah mengucapkan ketakutan itu.
Bahkan pada dirinya sendiri.
Kadang luka itu muncul dalam bentuk yang sederhana.
Seperti ketika anak-anak sakit dan tetangga berkata,
“Kasihan ya, sendirian.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang mereka kira.
Atau ketika orang berkata,
“Yang sabar ya, kan suamimu kerja buat kalian.”
Seolah lelahnya tidak sah.
Seolah sunyinya tidak valid.
Priska hanya tersenyum.
Ia belajar satu hal pahit:
tidak semua orang perlu tahu luka kita.
Ada malam-malam ketika ia berbicara pada Allah lebih lama dari biasanya.
Bukan doa panjang dengan kata-kata indah.
Tapi keluhan jujur yang keluar tanpa rencana.
“Ya Allah… aku capek…”
“Aku pengin ditemani…”
“Aku takut…”
Ia tidak meminta ujian diangkat.
Ia hanya meminta dikuatkan.
Dan di momen-momen itulah, air matanya paling jujur.
Ia tidak lagi berpura-pura kuat di hadapan siapa pun.
Perasaan “janda bersuami” itu tidak membuat Priska membenci suaminya.
Justru sebaliknya.
Ia sering merasa bersalah karena perasaan itu muncul.
“Dia juga berjuang,” pikirnya.
“Dia juga capek.”
Dan rasa bersalah itu membuatnya semakin diam.
Sebuah lingkaran sunyi.
Ia tidak bercerita karena takut membebani.
Ia memendam karena merasa harus kuat.
Dan karena memendam, lukanya makin dalam.
Ada satu titik di mana Priska hampir kehilangan dirinya sendiri.
Ia merasa hidupnya hanya tentang orang lain.
Tentang anak-anak.
Tentang kewajiban.
Ia lupa kapan terakhir kali tertawa tanpa beban.
Ia lupa kapan terakhir kali merasa ringan.
Ia bahkan lupa bagaimana rasanya diperhatikan.
Dan di titik itu, ia bertanya dalam hati:
“Siapa aku… selain ibu?”
Pertanyaan yang menakutkan.
Karena ia tidak tahu jawabannya.
Namun di balik semua itu, Priska tidak pernah berhenti mencintai.
Ia mencintai anak-anaknya dengan sepenuh jiwa.
Ia mencintai suaminya dengan cara yang sunyi.
Cinta yang bertahan meski jarak panjang.
Cinta yang tidak selalu terucap.
Ia percaya, luka ini bukan tanpa makna.
Mungkin Allah sedang membentuknya.
Mungkin sedang mengajarinya sesuatu.
Ia belum tahu apa.
Yang ia tahu, ia masih bertahan.
Malam itu, sebelum tidur, Priska menatap wajah anak-anaknya lagi.
Ia menyadari satu hal penting:
Meski ia merasa sendirian,
ia belum benar-benar ditinggalkan.
Ada kehidupan yang bergantung padanya.
Ada amanah yang harus ia jaga.
Dan meski hatinya penuh luka tak terucap,
ia masih memilih bangun setiap pagi.
Masih memilih mencintai.
Masih memilih bertahan.
Karena mungkin…
setelah sunyi yang panjang ini,
akan ada terang yang datang perlahan.
Dan luka yang selama ini ia simpan,
kelak akan berubah menjadi kekuatan.
Bab 5 — Hidup yang Tak Pernah Bertumbuh
Tahun demi tahun berlalu, tapi hidup Priska terasa seperti berdiri di tempat yang sama.
Rumah kecil itu tetap rumah yang sama.
Perabotannya tak banyak berubah.
Dan kebutuhan hidup… justru semakin besar.
Anak-anak bertambah usia.
Biaya ikut bertambah.
Sementara penghasilan, terasa begitu-begitu saja.
Priska sering duduk lama memandangi isi dompetnya. Ia menghitung uang kertas yang tersisa, lalu membuka ponsel untuk mengecek saldo. Ia hafal betul pola keluar-masuknya. Bahkan tanpa mencatat, ia sudah tahu ke mana uang itu pergi.
Bukan ke pakaian baru.
Bukan ke liburan.
Bukan ke keinginan pribadi.
Hampir semuanya habis untuk bertahan.
Biaya hidup.
Biaya sekolah.
Biaya makan.
Dan yang paling besar: biaya kesehatan anak-anak.
Ia pernah mencoba menghitung total uang yang sudah habis hanya untuk berobat dalam satu tahun. Angkanya membuat dadanya sesak. Jumlah itu cukup untuk banyak hal—untuk renov rumah kecilnya, untuk modal usaha, untuk tabungan masa depan.
Tapi angka itu telah berubah menjadi kuitansi dan resep obat.
Dan Priska tak tahu harus marah kepada siapa.
Yang membuatnya semakin tertekan bukan hanya kondisi itu sendiri, tapi pandangan orang-orang.
“Suamimu kan kerja di luar negeri, harusnya hidupmu sudah enak dong.”
“Lho, kok rumahnya masih gini?”
“Belum kepikiran beli motor baru?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa niat menyakiti. Tapi tetap saja melukai.
Priska hanya tersenyum.
Ia tidak ingin menjelaskan bahwa uang bisa habis bahkan sebelum sempat disimpan. Ia tidak ingin menceritakan malam-malam di rumah sakit. Ia tidak ingin membuka cerita tentang anak-anak yang sering sakit.
Karena ia tahu, tidak semua orang benar-benar ingin mengerti.
Beberapa hanya ingin membandingkan.
Ada masa di mana Priska mulai merasa gagal.
Gagal sebagai istri yang tidak mampu “memanfaatkan” hasil kerja suami.
Gagal sebagai ibu yang tidak bisa menjaga anak-anaknya selalu sehat.
Gagal sebagai perempuan yang hidupnya tak kunjung maju.
Ia membandingkan hidupnya dengan orang lain—sesuatu yang dulu selalu ia hindari.
Temannya sudah punya rumah baru.
Tetangganya membuka usaha.
Saudaranya sudah naik level hidup.
Sementara ia masih berkutat dengan masalah yang sama.
Sakit.
Biaya.
Lelah.
Dan setiap kali ia mencoba bermimpi, kenyataan menariknya kembali.
Priska pernah berpikir untuk mencari tambahan penghasilan.
Ia mencoba jualan kecil-kecilan dari rumah. Tapi sering terhenti karena anak sakit. Ia tidak bisa konsisten. Tidak bisa fokus. Tidak bisa berkembang.
Pelanggan datang sekali, lalu pergi.
Pesanan batal karena ia harus ke dokter.
Rencana selalu tertunda.
Dan setiap kali gagal, hatinya makin kecil.
“Apa aku memang nggak bisa?”
“Atau memang waktuku belum sekarang?”
Pertanyaan itu berputar-putar tanpa jawaban.
Uang dari suaminya datang, tapi selalu terasa seperti air di pasir. Disiram, lalu hilang.
Priska tidak menyalahkan suaminya. Ia tahu suaminya bekerja keras. Tapi ia juga tidak bisa memungkiri rasa frustrasi yang muncul.
Lima tahun bekerja di luar negeri.
Lima tahun berpisah.
Tapi hidup mereka tidak benar-benar berubah.
Ia pernah bertanya pelan pada suaminya,
“Tabungan kita sudah ada berapa?”
Jawaban itu membuatnya diam lama.
Tidak banyak.
Bukan karena disia-siakan.
Tapi karena kebutuhan terus datang.
Priska menutup pembicaraan itu dengan senyum. Tapi di dalam hatinya, ada rasa takut yang tumbuh.
Bagaimana nanti?
Bagaimana masa depan anak-anak?
Tekanan itu membuat Priska semakin jarang bermimpi.
Ia tidak lagi membayangkan hidup yang lebih baik.
Ia hanya berharap hidup yang tidak semakin berat.
Setiap pagi, targetnya sederhana:
Anak-anak makan.
Anak-anak tidak demam.
Hari bisa dilewati.
Ia berhenti memikirkan “naik level”.
Ia fokus bertahan.
Dan bertahan pun sudah terasa sangat berat.
Yang paling menyakitkan adalah ketika Priska mulai merasa tidak punya nilai.
Ia tidak menghasilkan uang sendiri.
Ia tidak punya pencapaian yang terlihat.
Ia merasa hidupnya hanya menghabiskan.
Perasaan itu tidak selalu muncul, tapi ketika datang, ia sangat menekan.
Ia duduk di kamar mandi, menatap cermin. Wajahnya tampak lelah. Lingkar mata menggelap. Rambutnya jarang terurus.
“Siapa aku sekarang?”
Pertanyaan itu kembali muncul.
Dan ia tidak tahu harus menjawab apa.
Namun di tengah semua rasa itu, Priska tetap menjalani hari-harinya.
Ia bangun.
Ia mengurus.
Ia melayani.
Karena hidup tidak menunggu seseorang siap.
Kadang ia berpikir, mungkin beginilah takdirnya. Hidup sederhana. Tidak berkembang. Tidak istimewa.
Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, masih ada satu doa kecil yang ia simpan rapat-rapat.
“Ya Allah… kalau memang hidupku harus berat, tolong jangan biarkan aku kehilangan harapan.”
Ia tidak meminta cepat.
Ia tidak meminta instan.
Ia hanya ingin tahu bahwa semua ini ada maknanya.
Di suatu malam yang sangat sunyi, setelah anak-anak tertidur, Priska duduk di lantai dengan mushaf di pangkuannya. Ia membuka halaman secara acak. Matanya jatuh pada satu ayat yang membuatnya terdiam lama.
Tentang kesabaran.
Tentang ujian.
Tentang janji bahwa kesulitan tidak datang sendirian.
Air matanya jatuh di atas halaman.
Ia tidak tahu kapan hidupnya akan berubah.
Ia tidak tahu kapan kesulitan ini berakhir.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama,
ia merasa sedikit lebih tenang.
Mungkin hidupnya memang belum bertumbuh secara materi.
Tapi jiwanya sedang dibentuk.
Dan tanpa ia sadari,
di balik hidup yang terasa jalan di tempat itu,
Allah sedang menyiapkan sesuatu.
Sesuatu yang tidak akan datang sebelum waktunya.
Dan titik balik itu…
perlahan mendekat.
Bab 6 — Doa Seorang Ibu yang Tak Pernah Putus
Ada titik dalam hidup Priska ketika ia berhenti berharap pada manusia.
Bukan karena kecewa.
Bukan karena membenci.
Tapi karena ia lelah menggantungkan harapannya pada sesuatu yang tak bisa ia genggam.
Ia belajar pelan-pelan mengalihkan sandaran.
Dari manusia…
kepada Allah.
Tidak ada perubahan besar yang langsung terjadi.
Tidak ada keajaiban yang turun seketika.
Hidup Priska masih sama.
Anak-anak masih sering sakit.
Uang masih terasa sempit.
Suami masih jauh.
Namun ada satu hal yang berubah perlahan:
cara Priska menjalani semuanya.
Jika dulu ia menangis sambil bertanya, “Kenapa aku?”
Kini ia mulai bertanya, “Apa yang ingin Kau ajarkan?”
Perubahan itu tidak datang dari satu peristiwa besar.
Ia datang dari malam-malam panjang yang sunyi.
Priska mulai terbiasa bangun di waktu yang tidak banyak orang terjaga.
Bukan karena ingin terlihat saleh.
Bukan karena ingin merasa lebih baik.
Tapi karena di jam-jam itulah, ia bisa jujur sepenuhnya.
Saat anak-anak tertidur pulas—meski dengan napas yang kadang masih berat—Priska mengambil air wudu. Gerakannya pelan. Badannya lelah. Tapi hatinya entah kenapa terasa ingin mendekat.
Ia berdiri di sajadah kecil yang sudah agak pudar warnanya.
Rumah sunyi.
Lampu redup.
Dan di sanalah, ia berbicara.
Tanpa bahasa indah.
Tanpa susunan doa panjang.
Hanya keluhan yang keluar apa adanya.
“Ya Allah… aku capek…”
“Aku takut…”
“Aku nggak tahu harus kuat sampai kapan…”
Air matanya jatuh begitu saja.
Bukan tangis keras.
Tapi tangis yang sudah terlalu lama disimpan.
Priska tidak selalu meminta masalahnya diangkat.
Kadang ia hanya meminta satu hal:
“Ya Allah… tolong jaga anak-anakku.”
Doa itu ia ulang-ulang.
Dalam sujud.
Dalam bisikan.
Dalam napas yang gemetar.
Ia tahu, kalau anak-anaknya sehat, ia bisa menahan apa pun.
Sakitnya badan sendiri.
Lelahnya hati.
Sunyinya rumah.
Semua terasa lebih ringan jika anak-anaknya baik-baik saja.
Ada malam-malam ketika Priska kehabisan kata.
Ia hanya diam lama dalam sujud.
Menempelkan kening ke sajadah.
Membiarkan air mata mengalir.
Dan di keheningan itulah, ia merasa didengar.
Bukan dengan jawaban langsung.
Tapi dengan ketenangan kecil yang tiba-tiba datang.
Seperti ada yang berbisik dalam hatinya:
Aku tahu kamu lelah.
Perasaan itu membuatnya bertahan.
Priska mulai menyadari satu hal penting:
Doa bukan selalu tentang meminta perubahan keadaan.
Kadang doa adalah tentang perubahan cara memandang keadaan.
Ia masih menghadapi masalah yang sama.
Tapi ia tidak lagi sendirian menghadapinya.
Ada Allah.
Dan keyakinan itu, meski tipis di awal,
perlahan menjadi kuat.
Ia mulai belajar menerima.
Bukan menyerah.
Tapi menerima bahwa hidupnya sedang berjalan dengan ritmenya sendiri.
Ia berhenti membandingkan.
Berhenti menghitung pencapaian orang lain.
Berhenti memaksa hidupnya harus “maju” seperti yang orang bayangkan.
Ia fokus pada satu hal:
menjalani hari dengan sebaik-baiknya.
Jika hari itu anak-anak tidak demam, itu sudah cukup.
Jika hari itu ia masih bisa tersenyum, itu sudah lebih dari cukup.
Dalam doa-doanya, Priska mulai belajar memaafkan dirinya sendiri.
Memaafkan karena tidak selalu kuat.
Memaafkan karena pernah iri.
Memaafkan karena pernah lelah berharap.
Ia sadar, menjadi ibu tidak menuntut kesempurnaan.
Yang dituntut hanyalah kehadiran.
Dan ia selalu hadir.
Ada satu malam yang terasa berbeda.
Anak-anak tertidur lebih tenang dari biasanya. Tidak ada batuk berat. Tidak ada demam tinggi. Hanya napas pelan yang teratur.
Priska duduk lama di samping mereka. Dadanya terasa hangat.
Ia berdoa lagi. Kali ini bukan dengan air mata.
“Terima kasih, Ya Allah…”
Untuk malam yang tenang.
Untuk napas yang teratur.
Untuk rasa syukur kecil yang sering terlewat.
Sejak malam-malam itu, Priska mulai melihat tanda-tanda kecil.
Bukan keajaiban besar.
Tapi cukup untuk menguatkan.
Anak-anak tidak sesering dulu masuk rumah sakit.
Waktu sakitnya lebih singkat.
Pemulihan lebih cepat.
Masih ada sakit.
Tapi tidak seberat dulu.
Priska tidak berani terlalu berharap.
Ia hanya bersyukur.
Karena ia tahu, harapan yang terlalu besar bisa kembali melukai.
Doa juga mengubah caranya memandang suaminya.
Ia tidak lagi menyimpan banyak keluhan di hati.
Ia mulai mendoakan suaminya dengan lebih ikhlas.
“Ya Allah… kuatkan dia di sana.”
“Lindungi dia dari hal yang buruk.”
“Pulangin dia ke kami dalam keadaan baik.”
Doa-doa itu menenangkan hatinya.
Ia sadar, mereka berdua sedang sama-sama diuji.
Dengan bentuk yang berbeda.
Ada hari di mana Priska merasa sangat lelah lagi.
Doa tidak selalu membuat hari menjadi mudah.
Tapi doa membuatnya tetap berjalan.
Ketika ia hampir putus asa, ia ingat satu hal:
Ia sudah sampai sejauh ini.
Dan tidak mungkin semua ini sia-sia.
Priska mulai menanam satu keyakinan kecil di hatinya:
Allah tidak sedang menyiksanya.
Allah sedang membentuknya.
Membentuk kesabaran.
Membentuk keteguhan.
Membentuk hati yang kuat tapi lembut.
Dan keyakinan itu membuatnya tidak lagi tergesa-gesa meminta akhir.
Jika ujian ini harus lama, ia ingin keluar sebagai pribadi yang lebih baik.
Suatu pagi, setelah shalat subuh, Priska duduk di teras kecil rumahnya. Udara dingin. Langit masih gelap kebiruan.
Ia merasa tenang.
Masalah belum selesai.
Hidup belum berubah drastis.
Tapi hatinya…
lebih lapang.
Dan di sanalah ia menyadari:
Titik balik sering kali tidak dimulai dari perubahan keadaan.
Tapi dari perubahan hati.
Priska belum tahu bahwa sebentar lagi, hidupnya akan benar-benar berubah.
Bahwa doa-doa yang selama ini ia panjatkan dalam sunyi,
sedang dikumpulkan satu per satu.
Bahwa Allah tidak pernah lalai mendengar.
Dan ketika waktunya tiba,
jawaban itu akan datang—
bukan dengan cara yang ia duga,
tapi dengan cara yang paling tepat.
Bab 7 — Kepulangan yang Mengubah Segalanya
Hari itu akhirnya datang.
Hari yang selama bertahun-tahun hanya menjadi kalimat,
“Sebentar lagi ayah pulang.”
Pagi itu berbeda.
Priska bangun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Antara bahagia, gugup, dan takut. Sudah hampir lima tahun ia menjalani hidup dengan ritme sendiri. Lima tahun membangun kekuatan yang bahkan tak pernah ia tahu ia miliki.
Dan hari ini… suaminya pulang.
Bandara yang dulu menjadi tempat perpisahan, kini menjadi tempat pertemuan.
Anak-anak berdiri di sampingnya. Mereka lebih besar sekarang. Tidak lagi bayi yang digendong. Wajah-wajah kecil itu terlihat penasaran sekaligus canggung.
Ketika pintu kedatangan terbuka dan sosok yang mereka tunggu muncul, waktu terasa melambat.
Suaminya tampak lebih kurus. Lebih matang. Wajahnya menyimpan jejak lelah yang sama panjangnya dengan Priska.
Mata mereka bertemu.
Tidak ada kalimat besar.
Tidak ada drama berlebihan.
Hanya tatapan panjang yang menyimpan lima tahun cerita.
Anak-anaklah yang lebih dulu memecah jarak itu.
“Ayah…”
Suara kecil itu membuat segalanya runtuh.
Suaminya berlutut, membuka tangan. Anak-anak mendekat, masih sedikit malu. Pelukan pertama itu terasa asing sekaligus hangat.
Priska berdiri beberapa langkah di belakang.
Dan ketika akhirnya ia dipeluk, ia sadar…
ia masih mencintainya seperti dulu.
Tapi mereka berdua bukan lagi orang yang sama.
Kepulangan bukan berarti semua langsung mudah.
Hari-hari pertama terasa canggung.
Ritme rumah berubah.
Anak-anak belum terbiasa ada ayah setiap hari.
Priska pun belum terbiasa berbagi keputusan lagi.
Ia yang selama ini terbiasa mengatur segalanya sendiri, kini harus belajar berdiskusi kembali.
Hal-hal kecil kadang terasa aneh.
Suaminya ingin membantu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Priska ingin ditemani, tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkan kebutuhannya.
Ada jarak yang tidak terlihat—bukan jarak fisik, tapi jarak kebiasaan.
Namun kali ini, mereka memilih untuk tidak diam.
Suatu malam, setelah anak-anak tertidur, mereka duduk berdua di ruang tengah.
Tanpa ponsel.
Tanpa gangguan.
Hanya dua orang yang pernah saling berjanji, kini mencoba menemukan kembali satu sama lain.
“Aku tahu kamu pasti capek banget selama ini,” kata suaminya pelan.
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Priska, itu seperti pintu yang akhirnya terbuka.
Air matanya jatuh. Bukan tangis lama yang penuh luka, tapi tangis lega.
“Aku cuma pengin kita bareng-bareng sekarang,” jawabnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa benar-benar didengar.
Suaminya tidak pulang membawa tabungan besar.
Tidak ada koper penuh uang.
Tidak ada perubahan materi yang drastis.
Yang ia bawa adalah tekad.
Tekad untuk membangun kembali keluarganya.
Tekad untuk tidak lagi berjauhan.
Mereka mulai dari hal sederhana.
Mengatur ulang pola makan anak-anak.
Lebih disiplin soal jam tidur.
Lebih perhatian terhadap kesehatan.
Suaminya ikut mengantar ke dokter. Ikut bangun malam. Ikut menggendong saat anak demam.
Priska tidak lagi sendirian di ruang IGD.
Tidak lagi sendiri saat administrasi.
Tidak lagi sendiri saat harus memutuskan.
Dan kehadiran itu—lebih dari uang—yang paling menyembuhkan.
Anak-anak pun perlahan berubah.
Ada sesuatu yang berbeda ketika ayah ada di rumah.
Tawa mereka lebih sering.
Semangat makan meningkat.
Tidur lebih nyenyak.
Mungkin karena rasa aman yang utuh kini kembali.
Kesehatan mereka belum langsung sempurna, tapi ada perbaikan yang nyata.
Tidak lagi “berjamaah” seperti dulu.
Kalau satu sakit, yang lain tidak selalu ikut.
Priska melihat itu sebagai jawaban doa yang perlahan datang.
Suaminya juga mulai membangun kembali kariernya di tanah air.
Awalnya tidak mudah.
Penghasilan belum sebesar saat di luar negeri.
Adaptasi butuh waktu.
Tapi kali ini, mereka bersama.
Priska mendukung sepenuh hati.
Suaminya pun lebih terbuka dalam urusan keuangan.
Mereka duduk bersama membuat rencana.
Tidak muluk-muluk.
Tidak terburu-buru.
Yang penting bertumbuh pelan-pelan.
Ada satu momen yang membuat Priska tersadar betul bahwa hidupnya telah berubah.
Suatu malam, anak bungsunya demam ringan.
Refleks lama hampir membuat Priska panik.
Tapi kali ini, suaminya berdiri di sampingnya.
“Tenang. Kita hadapi bareng-bareng.”
Dua kalimat itu terasa seperti pelukan panjang.
Dan untuk pertama kalinya, ketika malam datang dengan ujian kecil, Priska tidak merasa dunia ikut goyah.
Karena ia tidak lagi berdiri sendirian.
Hari-hari mereka tidak langsung sempurna.
Masih ada konflik kecil.
Masih ada penyesuaian.
Masih ada lelah.
Tapi ada satu hal yang berbeda:
Ada kebersamaan.
Dan kebersamaan itu menguatkan lebih dari apa pun.
Priska mulai menemukan kembali dirinya.
Ia tidak lagi hanya bertahan.
Ia mulai bermimpi lagi.
Mimpi sederhana—rumah yang lebih sehat, anak-anak yang tumbuh kuat, usaha kecil yang bisa berkembang.
Suaminya pun mulai menunjukkan kemajuan dalam pekerjaannya. Bukan lompatan besar, tapi langkah yang stabil.
Peluang datang.
Relasi terbuka.
Kepercayaan diri tumbuh.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hidup mereka terasa… bergerak.
Suatu sore, Priska duduk di teras rumah sambil memperhatikan anak-anak bermain bersama ayahnya.
Tawa mereka mengisi udara.
Ia tersenyum.
Semua luka sunyi itu tidak sia-sia.
Semua malam panjang.
Semua air mata.
Semua doa dalam sujud.
Ternyata tidak hilang begitu saja.
Allah tidak pernah salah menunda.
Kepulangan suaminya bukan sekadar reuni.
Ia adalah awal dari babak baru.
Babak di mana mereka tidak lagi hanya bertahan,
tapi mulai membangun.
Dan dari rumah kecil yang dulu penuh cemas itu,
perlahan tumbuh harapan yang nyata.
Bab 8 — Anak-anak yang Mulai Sehat, Hidup yang Mulai Bangkit
Perubahan itu tidak datang dengan suara keras.
Ia tidak mengetuk pintu dengan dramatis.
Ia tidak membawa kejutan besar.
Ia datang perlahan.
Hampir tidak terasa.
Priska baru menyadarinya ketika suatu pagi ia bangun dan rumah terasa… tenang.
Tidak ada batuk bersahutan.
Tidak ada napas berat dari kamar sebelah.
Tidak ada termometer yang harus segera dicari.
Anak-anak masih tidur dengan damai.
Ia berdiri lama di depan pintu kamar, memperhatikan dada kecil mereka yang naik turun dengan teratur.
Sudah beberapa minggu tidak ada demam tinggi.
Sudah beberapa bulan tidak ada kunjungan darurat ke rumah sakit.
Bukan berarti tidak pernah sakit sama sekali. Tapi berbeda.
Tidak lagi “berjamaah”.
Tidak lagi berat.
Tidak lagi membuat dunia terasa runtuh.
Priska menahan napasnya, hampir takut bersyukur terlalu cepat.
Tapi kali ini, ia tidak bisa menahan senyum.
Doa-doa itu… mulai dijawab.
Kehadiran ayah di rumah membawa pengaruh yang tidak pernah Priska duga sebelumnya.
Anak-anak lebih disiplin makan.
Lebih bersemangat bermain di luar.
Lebih jarang rewel.
Suaminya ikut memperbaiki pola hidup mereka.
Ia mengajak anak-anak berjemur pagi.
Mengurangi jajanan luar.
Membuat jadwal tidur lebih teratur.
Hal-hal sederhana yang dulu sulit Priska lakukan sendirian, kini terasa lebih ringan karena ada yang membantu.
Dan dari situ, kesehatan anak-anak membaik.
Priska menyadari satu hal penting:
Selama ini ia memang kuat.
Tapi kekuatan itu menjadi lebih sempurna ketika dibagi.
Dengan anak-anak yang semakin sehat, waktu Priska pun perlahan menjadi lebih lapang.
Ia tidak lagi habis oleh rumah sakit.
Tidak lagi terkuras oleh malam panjang tanpa tidur.
Ia mulai punya ruang untuk berpikir.
Bukan hanya tentang hari ini,
tapi tentang masa depan.
Suaminya juga mulai menemukan ritme dalam pekerjaannya.
Awalnya tidak mudah. Penghasilan memang belum stabil. Tapi ia bekerja dengan semangat yang berbeda.
Bukan lagi untuk mengejar mimpi yang jauh.
Tapi untuk membangun dari dekat.
Ia pulang setiap sore.
Ia melihat langsung wajah anak-anaknya.
Ia menyaksikan tumbuh kembang mereka.
Dan itu memberinya dorongan yang tak tergantikan.
Suatu malam, mereka duduk bersama dengan secangkir teh hangat.
Tidak ada tagihan darurat.
Tidak ada anak yang menangis demam.
Hanya percakapan ringan tentang rencana.
“Kita mulai nabung lagi ya,” kata suaminya pelan.
Priska mengangguk. Kali ini bukan dengan rasa cemas. Tapi dengan rasa yakin.
Mereka membuat anggaran sederhana.
Menentukan prioritas.
Belajar lebih bijak mengatur uang.
Hidup mereka belum mewah.
Tapi tidak lagi terasa sesak seperti dulu.
Dan yang paling penting—mereka melakukannya bersama.
Perubahan terbesar bukan pada angka di rekening.
Tapi pada suasana rumah.
Tawa lebih sering terdengar.
Obrolan lebih panjang.
Pelukan lebih hangat.
Anak-anak mulai menunjukkan perkembangan yang membahagiakan.
Anak pertama lebih percaya diri di sekolah.
Anak kedua jarang absen karena sakit.
Anak bungsu tumbuh lebih kuat.
Dokter bahkan pernah berkata, “Sekarang daya tahan tubuhnya jauh lebih bagus.”
Kalimat itu membuat Priska hampir menangis di depan meja dokter.
Ia teringat semua malam panjang yang pernah ia lalui.
Semua rasa takut.
Semua doa.
Dan kini, ia melihat hasilnya.
Perlahan, suaminya juga mendapatkan peluang yang lebih baik dalam pekerjaannya.
Relasi yang dulu sempat terputus mulai tersambung kembali. Ia menunjukkan keseriusan dan kedisiplinan yang ditempa selama bertahun-tahun merantau.
Kepercayaan datang.
Tanggung jawab bertambah.
Dan penghasilan mulai stabil.
Tidak langsung melonjak.
Tapi cukup untuk membuat mereka bernapas lebih lega.
Mereka mulai memperbaiki sedikit demi sedikit isi rumah. Mengganti perabot yang sudah rusak. Mengecat ulang dinding yang kusam.
Bukan untuk pamer.
Tapi untuk rasa nyaman.
Priska berdiri di ruang tengah suatu sore, memandang dinding yang kini lebih cerah. Hatinya ikut terasa lebih terang.
Ada satu momen sederhana yang membuat Priska benar-benar sadar bahwa hidupnya telah bangkit.
Anak-anak bermain di halaman kecil rumah. Suaminya duduk di bangku sambil memperhatikan mereka.
Priska membawa minuman dan duduk di sampingnya.
Tidak ada drama.
Tidak ada masalah besar.
Hanya sore biasa yang tenang.
Dan justru dalam kesederhanaan itulah, ia merasa sangat kaya.
Kaya akan kebersamaan.
Kaya akan kesehatan.
Kaya akan rasa cukup.
Priska tersenyum dalam hati.
Ia teringat masa-masa ketika ia merasa hidupnya tidak pernah bertumbuh. Ketika ia merasa gagal. Ketika ia merasa tertinggal.
Kini ia paham.
Pertumbuhan tidak selalu terlihat cepat.
Kadang ia tumbuh di dalam, sebelum terlihat di luar.
Kesabaran yang dulu ia pelajari.
Keikhlasan yang dulu ia latih.
Doa yang dulu ia ulang-ulang.
Semua itu menjadi fondasi.
Dan sekarang, fondasi itu mulai menampakkan hasil.
Suatu malam sebelum tidur, Priska memandangi anak-anaknya lagi.
Kali ini bukan dengan rasa takut.
Tapi dengan rasa syukur yang dalam.
Ia menyadari bahwa kebangkitan bukan berarti tidak ada lagi ujian.
Tapi berarti hati sudah siap menghadapi apa pun.
Ia tidak lagi takut berlebihan.
Ia tidak lagi panik seperti dulu.
Karena ia tahu, mereka sudah melewati yang lebih berat.
Dan mereka berhasil.
Bersama.
Hidup mereka belum sempurna.
Masih ada tantangan.
Masih ada hari lelah.
Tapi kini, Priska tidak merasa berjalan di tempat.
Ia merasa bergerak.
Pelan, tapi pasti.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia tidak hanya bertahan.
Ia hidup.
Dan dari rumah kecil yang dulu penuh cemas itu, kini tumbuh harapan yang nyata—harapan yang dibangun dari air mata, doa, dan kebersamaan.
Bab 9 — Allah Tidak Pernah Salah Menunda
Ada waktu dalam hidup Priska ketika ia bertanya, dengan suara paling pelan di dalam hatinya:
“Ya Allah… sampai kapan?”
Bukan dengan nada marah.
Bukan dengan tuntutan.
Hanya lelah.
Ia tidak pernah meminta hidup yang mewah.
Ia tidak pernah menuntut ujian itu diangkat cepat.
Ia hanya ingin tahu…
apakah semua yang ia jalani benar-benar dilihat.
Kini, ketika ia menoleh ke belakang, Priska tersenyum pelan.
Jawabannya ada di setiap langkah yang pernah ia lewati.
Semua yang dulu terasa tertunda, ternyata sedang disiapkan.
Anak-anak yang sering sakit, bukan untuk melemahkannya—
melainkan untuk mengajarinya sabar yang paling murni.
Suami yang lama merantau, bukan untuk menjauhkannya—
melainkan untuk menguatkan ikatan mereka dari dua arah yang berbeda.
Hidup yang terasa jalan di tempat, bukan tanda kegagalan—
melainkan masa penguatan fondasi.
Priska baru memahami itu sekarang.
Ketika badai telah reda,
ia bisa melihat bentuknya dengan lebih jelas.
Ia teringat masa-masa ketika ia merasa seperti janda bersuami.
Mengurus segalanya sendiri.
Menangis dalam sunyi.
Dulu, perasaan itu sangat menyakitkan.
Kini, perasaan itu berubah menjadi pelajaran.
Pelajaran bahwa ia lebih kuat dari yang ia kira.
Pelajaran bahwa ia mampu bertahan bahkan ketika dunia terasa berat.
Dan pelajaran itu tidak sia-sia.
Suaminya kini berada di sisinya.
Bukan sebagai pahlawan yang datang membawa segalanya.
Tapi sebagai partner.
Mereka berjalan sejajar.
Berbagi beban.
Berbagi doa.
Dan kebersamaan itu terasa jauh lebih berharga daripada hasil instan.
Anak-anak kini tumbuh lebih sehat.
Lebih ceria.
Lebih kuat.
Mereka mungkin tidak akan ingat malam-malam ketika bundanya duduk sambil menangis di lantai.
Tapi Priska tahu, cinta yang ia berikan di masa-masa sulit itu telah membentuk mereka.
Dengan cara yang tidak terlihat.
Priska tidak lagi bertanya, “Kenapa aku?”
Ia kini bertanya,
“Untuk apa semua ini?”
Dan jawabannya ia temukan dalam ketenangan.
Untuk membentuk hati.
Untuk mengajarkan tawakal.
Untuk menunjukkan bahwa pertolongan Allah selalu datang—tepat waktu, meski terasa lambat.
Ada satu kalimat yang kini sering Priska ulang dalam hatinya:
“Allah tidak pernah salah menunda.”
Karena jika semua doanya dulu langsung dikabulkan,
ia mungkin tidak akan belajar setabah ini.
Jika semua jalan dimudahkan sejak awal,
ia mungkin tidak akan mengenal kekuatan doanya sendiri.
Dan jika hidupnya dulu nyaman,
ia mungkin tidak akan mengenal arti cukup.
Kini, ketika ujian datang lagi—karena Priska tahu hidup tidak pernah benar-benar bebas ujian—
ia tidak lagi goyah seperti dulu.
Ia tahu ke mana harus kembali.
Ia tahu siapa tempat bersandar.
Dan itu membuatnya tenang.
Priska berdiri di ambang pintu rumahnya suatu sore.
Anak-anak bermain.
Suaminya tertawa bersama mereka.
Rumah itu masih sederhana.
Hidup itu masih penuh perjuangan.
Tapi hatinya… utuh.
Dan dari sanalah ia menyadari:
Kesuksesan tidak selalu berarti banyaknya harta.
Kesuksesan juga berarti keluarga yang saling menguatkan.
Kesuksesan berarti mampu melewati badai tanpa kehilangan iman.
Untuk setiap ibu yang membaca kisah ini…
Yang sedang lelah.
Yang sedang diuji.
Yang merasa hidupnya tertunda.
Priska ingin berkata satu hal:
Kamu tidak sendirian.
Dan semua air mata itu tidak sia-sia.
Jika hari ini terasa berat,
mungkin karena kamu sedang dikuatkan.
Dan jika hidup terasa lambat,
mungkin karena Allah sedang menyiapkanmu.
Dengan cara yang paling tepat.
Dengan waktu yang paling indah.
Kisah Priska bukan tentang penderitaan semata.
Ini adalah kisah tentang bertahan.
Tentang doa yang tidak pernah putus.
Tentang cinta yang memilih tetap tinggal.
Dan di akhir semua itu, satu kebenaran berdiri dengan tenang:
Allah tidak pernah salah menunda.
Karena ketika waktunya tiba,
jawaban-Nya akan selalu lebih indah
dari apa pun yang pernah kita bayangkan.
🤍 SELESAI
Epilog
Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.
Kadang ia berbelok tanpa aba-aba,
kadang ia berhenti terlalu lama di satu titik yang melelahkan.
Priska pernah berada di sana—
di persimpangan antara bertahan dan menyerah,
di ruang sunyi antara doa dan air mata.
Ia belajar bahwa tidak semua perjuangan harus terlihat hebat.
Ada perjuangan yang hanya diketahui oleh langit.
Ada kesabaran yang tumbuh tanpa sorotan.
Dan ada doa-doa yang dikabulkan bukan dengan kecepatan,
melainkan dengan ketepatan.
Hari ini, Priska memahami sesuatu yang dulu sulit ia terima:
bahwa Allah tidak pernah lalai.
Tidak pernah lupa.
Dan tidak pernah salah menunda.
Setiap sakit yang pernah datang,
setiap malam yang dilalui tanpa tidur,
setiap tangis yang jatuh dalam diam—
semuanya bukan untuk melemahkan,
melainkan untuk menguatkan.
Karena sebelum sebuah keluarga bangkit,
ia harus terlebih dahulu dikuatkan.
Sebelum hidup terasa lapang,
hati harus lebih dulu belajar cukup.
Dan sebelum doa dijawab dengan kebahagiaan,
ia sering kali diuji dengan kesabaran.
Kini, Priska tidak lagi menanyakan kapan ujian berakhir.
Ia memilih mensyukuri sejauh apa ia telah bertahan.
Sebab ia tahu,
jika hari ini terasa lebih tenang,
itu bukan karena ujian telah hilang,
melainkan karena hatinya telah tumbuh.
Dan dari kisah ini,
kita belajar satu hal sederhana namun dalam:
Tidak ada kesabaran yang sia-sia.
Tidak ada doa yang terlewat.
Dan tidak ada air mata yang jatuh tanpa makna.
Karena pada akhirnya,
Allah selalu memberi pada waktu yang paling tepat—
dengan cara yang paling indah.
💌 Surat untuk Kamu yang Sedang Bertahan
Untukmu yang mungkin membaca kisah ini dalam diam…
Mungkin sambil menunggu anakmu tertidur.
Mungkin di sela lelah yang belum sempat kamu ceritakan ke siapa pun.
Mungkin dengan hati yang sedang penuh tapi tak tahu harus berbagi ke mana.
Aku ingin kamu tahu satu hal terlebih dahulu:
lelahmu itu nyata. Dan itu tidak membuatmu lemah.
Ada hari-hari ketika kamu merasa hidup berjalan terlalu berat.
Anak sakit.
Keuangan sempit.
Suami jauh atau sibuk.
Doa terasa belum dijawab.
Dan kamu tetap bangun esok paginya.
Itu bukan hal kecil.
Tidak semua orang tahu bagaimana rasanya menjadi ibu yang harus kuat bahkan saat hatinya rapuh.
Tidak semua orang tahu bagaimana rasanya tersenyum di depan anak-anak, sementara di belakang pintu kamu menahan tangis.
Tapi Allah tahu.
Setiap kompres yang kamu tempelkan di dahi anakmu tengah malam.
Setiap doa yang kamu bisikkan di antara sujud yang panjang.
Setiap rasa takut yang kamu sembunyikan agar anak-anakmu tidak ikut cemas.
Semua itu tercatat.
Jika hari ini hidupmu terasa tidak berkembang,
jangan buru-buru menyebut dirimu gagal.
Bisa jadi kamu sedang dibentuk.
Dikuatkan.
Dipersiapkan.
Tidak semua pertumbuhan terlihat di luar.
Ada yang tumbuh di dalam—dalam kesabaranmu, dalam keikhlasanmu, dalam keteguhanmu.
Dan percayalah… itu jauh lebih berharga.
Jika kamu merasa seperti berjalan sendirian,
ingatlah bahwa ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkanmu.
Jika kamu merasa doa-doamu lama dijawab,
ingatlah bahwa Allah tidak pernah salah waktu.
Mungkin bukan hari ini.
Mungkin bukan besok.
Tapi ketika waktunya tiba,
kamu akan menoleh ke belakang dan berkata,
“Ternyata semua ini ada maknanya.”
Untukmu, ibu yang tidak pernah benar-benar istirahat,
yang sering merasa biasa saja padahal luar biasa,
yang sering merasa tertinggal padahal sedang dipersiapkan—
Teruslah bertahan.
Karena bisa jadi,
titik balikmu sedang berjalan pelan menuju arahmu.
Dan ketika ia tiba,
ia akan datang membawa jawaban
yang lebih indah dari apa pun yang pernah kamu bayangkan.
Peluk jauh untukmu 🤍