Kisah Anak Durhaka Bernama Rina: Ibu Buruh Cuci yang Disakiti Demi Gaya Hidup Palsu


“Perjuangan seorang ibu buruh cuci dan penyesalan seorang anak yang terlalu mengejar gengsi.”

Opening Kisah
Kadang yang paling menyakitkan bukanlah kemiskinan.
Tapi rasa malu memiliki ibu yang miskin.
Rina tak pernah merasa dirinya anak yang jahat. Ia hanya ingin dihargai. Ia hanya ingin dianggap setara dengan teman-temannya. Ia ingin dipanggil, diajak duduk satu meja, difoto bersama, dipuji karena penampilannya.
Namun tanpa ia sadari, keinginannya untuk terlihat “cukup” di mata orang lain justru membuatnya lupa pada satu hal yang paling penting — ibu yang berjuang mati-matian agar ia tetap bisa berdiri tegak di sekolahnya.
Di sebuah rumah kecil berdinding papan, seorang ibu bangun sebelum matahari terbit. Tangannya yang kasar oleh sabun dan deterjen tak pernah berhenti bekerja. Punggungnya sering nyeri. Lututnya sering gemetar. Tapi ia tetap tersenyum setiap kali Rina meminta sesuatu.
Ia tak pernah bertanya, “Perlukah?”
Ia hanya berpikir, “Bagaimana caranya agar bisa?”
Sementara itu, Rina sibuk membangun dunia yang tak pernah benar-benar ia miliki. Dunia yang dipenuhi sepatu bermerek, tas mahal, dan foto-foto pura-pura bahagia. Dunia yang membuatnya merasa diterima — tapi perlahan menjauhkannya dari satu-satunya orang yang benar-benar tulus mencintainya.
Rina tak sadar…
setiap kali ia berkata, “Mama nggak ngerti aku,”
ada hati yang diam-diam retak.
Ia tak sadar…
setiap kali ia berkata, “Jangan bikin aku malu,”
ada doa yang tetap dipanjatkan untuknya.
Dan ia sama sekali tak menyangka,
bahwa suatu hari nanti,
penyesalan itu akan datang bukan dengan suara keras,
melainkan lewat tubuh ibu yang terbaring lemah —
dan secarik kertas kecil berisi cinta yang tak pernah ia hargai.
Kisah ini bukan hanya tentang seorang anak yang durhaka.
Ini tentang gengsi yang membutakan.
Tentang kepura-puraan yang melelahkan.
Dan tentang cinta seorang ibu yang bahkan ketika disakiti, tetap memilih mendoakan.
Namanya Rina.
Dan inilah kisahnya.

Bab 1 — Rumah Kecil dan Ibu yang Selalu Mengalah
“Tidak semua luka terlihat. Ada yang bersembunyi di balik senyum seorang ibu.”
Di ujung sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati satu motor, berdirilah sebuah rumah kecil berdinding papan yang mulai lapuk dimakan usia. Atap sengnya berkarat di beberapa bagian. Jika hujan turun deras, suaranya seperti ribuan ketukan kecil yang tak pernah berhenti, memantul di dalam ruangan yang hanya terdiri dari dua kamar sempit, satu ruang tamu kecil, dan dapur sederhana di belakang.
Rumah itu bukan rumah yang indah.
Namun di sanalah cinta seorang ibu tumbuh setiap hari, tanpa pamrih.
Namanya Bu Sari.
Perempuan itu tak lagi muda. Wajahnya menyimpan garis-garis lelah yang tak bisa disembunyikan. Tangannya kasar, kukunya sering memutih karena deterjen. Jika malam tiba dan lampu redup menyala, bayangan tubuhnya terlihat semakin kurus.
Setiap hari, ia bangun sebelum adzan Subuh selesai berkumandang.
Sementara orang lain masih terlelap dalam hangatnya selimut, Bu Sari sudah duduk di tepi kasur tipisnya, menarik napas pelan, lalu bangkit. Ia merapikan mukena, menunaikan shalat, dan memanjatkan doa yang hampir selalu sama.
“Ya Allah, kuatkan hamba hari ini. Jaga anakku. Cukupkan rezeki kami.”
Di kamar sebelah, Rina masih terlelap.
Rina, putrinya satu-satunya.
Remaja berusia enam belas tahun itu memiliki wajah yang manis. Kulitnya bersih. Rambutnya panjang tergerai. Jika tersenyum, ia terlihat sangat cantik. Cantik seperti harapan yang dulu pernah membuat Bu Sari bertahan setelah suaminya meninggal dunia karena kecelakaan kerja.
Sejak saat itu, hidup Bu Sari hanya punya satu tujuan:
Rina harus sekolah.
Rina harus punya masa depan lebih baik.
Setelah shalat, Bu Sari menyalakan kompor kecil di dapur. Ia menanak nasi, menggoreng telur, atau sekadar membuat tempe goreng tipis. Kadang hanya ada nasi dan sambal. Kadang hanya mie instan dibagi dua.
Namun piring Rina selalu terlihat lebih penuh.
“Anak masih butuh banyak makan,” begitu pikirnya.
Sementara ia sendiri sering merasa cukup hanya dengan air putih dan sisa nasi semalam.
Pukul lima pagi, Bu Sari sudah siap dengan keranjang cucian besar di belakang motornya yang tua. Motor itu sering mogok, knalpotnya berisik, tapi tetap ia rawat sebaik mungkin.
Hari ini ia harus mencuci di rumah Bu Ratna di komplek sebelah. Besok di rumah Pak Hadi. Lusa mungkin di rumah keluarga lain. Selain mencuci, kadang ia juga diminta menyapu halaman, mengepel lantai, atau membersihkan kamar mandi.
Upahnya tak seberapa.
Namun ia tak pernah menawar.
Sementara itu, Rina bangun sekitar pukul enam. Dengan mata setengah terbuka, ia mengambil ponselnya. Hal pertama yang ia lihat bukanlah pesan ibunya, melainkan notifikasi media sosial.
Teman-temannya sudah mengunggah foto sarapan di kafe baru. Ada yang memamerkan tas baru. Ada yang mengeluh karena sepatu lama sudah tak trend lagi.
Rina menatap layar cukup lama.
Entah sejak kapan, ia mulai membandingkan hidupnya dengan hidup mereka.
Di depan cermin kecil yang retak di sudut, Rina merapikan rambutnya. Ia mengenakan seragam yang sudah beberapa kali dicuci hingga warnanya sedikit memudar. Sepatunya bersih, tapi bukan merek terkenal.
Ia menatap dirinya sendiri dan berbisik dalam hati,
“Apa aku kelihatan biasa banget ya?”
Ia tak pernah mengatakan kalimat itu keras-keras. Tapi perasaan itu mulai tumbuh.
Perasaan kurang.
Perasaan ingin lebih.
Sebelum berangkat sekolah, Rina jarang lagi duduk sarapan bersama ibunya. Bu Sari biasanya sudah pergi lebih dulu.
Namun setiap pagi, selalu ada catatan kecil di atas meja.
“Uang jajan di bawah piring ya, Nak. Hati-hati di jalan. Mama doakan.”
Rina sering mengambil uang itu tanpa membaca ulang tulisannya.
Ia tak pernah benar-benar memikirkan dari mana uang itu berasal.
Ia tak pernah benar-benar membayangkan tangan siapa yang harus memeras pakaian berat demi lembaran uang tersebut.
Baginya, uang jajan itu sudah seharusnya ada.
Di sekolah, Rina duduk bersama teman-teman barunya. Mereka anak-anak yang terbiasa hidup nyaman. Tas mereka bermerek. Botol minum mereka lucu dan mahal. Ketika istirahat, mereka berbicara tentang rencana liburan atau barang baru yang ingin dibeli.
“Rin, kamu ikut nggak nanti ke kafe yang viral itu?” tanya salah satu temannya.
Rina tersenyum tipis. “Lihat nanti ya.”
Padahal ia tahu, uang jajannya mungkin hanya cukup untuk ongkos dan makan sederhana.
Tapi ia tak ingin terlihat berbeda.
Rasa ingin diterima perlahan menggerogoti rasa syukurnya.
Suatu siang, saat Bu Sari sedang mencuci tumpukan pakaian di rumah majikannya, tangannya mulai gemetar karena lelah.
 Ember besar itu terasa semakin berat. Punggungnya nyeri. Ia sempat duduk sebentar di bangku kecil, mengusap keringat di dahinya.
Di sela-sela lelahnya, ia membuka ponsel sederhana miliknya. Ia melihat foto Rina yang diunggah seseorang. Rina tersenyum bersama teman-temannya.
Hatinya hangat.
“Cantik sekali anak Mama,” gumamnya pelan.
Ia tak tahu, di balik senyum itu, ada hati yang mulai merasa malu dengan kehidupan sederhana mereka.
Sore hari, Bu Sari pulang dengan langkah pelan. Tubuhnya lelah, tapi wajahnya tetap berusaha tersenyum. Ia membuka pintu rumah dan melihat Rina sudah duduk di ruang tamu kecil, menatap layar ponselnya.
“Sudah makan, Nak?” tanyanya lembut.
Rina mengangguk tanpa menoleh.
“Besok ada apa di sekolah?” tanya Bu Sari lagi, mencoba membuka percakapan.
“Biasa aja,” jawab Rina singkat.
Percakapan mereka tak pernah panjang. Bukan karena tak ada cinta. Tapi karena jarak mulai tumbuh, perlahan.
Bu Sari tak pernah mengeluh tentang pekerjaannya. Ia tak pernah menceritakan bagaimana tangannya perih karena sabun. Ia tak pernah menunjukkan rasa sakit di punggungnya.
Baginya, Rina tak perlu tahu beratnya hidup.
Yang penting anaknya bisa sekolah dengan tenang.
Namun tanpa disadari, justru ketenangan itulah yang membuat Rina tak pernah benar-benar memahami perjuangan ibunya.
Malam itu, hujan turun deras. Air menetes dari celah atap di dapur. Bu Sari meletakkan ember untuk menampungnya. Ia menatap dinding rumah yang mulai lembab.
“Suatu hari nanti, Mama ingin perbaiki rumah ini,” bisiknya dalam hati.
Bukan untuk dirinya.
Untuk Rina.
Agar Rina tak lagi merasa malu mengundang teman.
Agar Rina tak lagi merasa kecil.
Di kamar, Rina masih menatap layar ponsel. Ia melihat teman-temannya mengunggah foto bersama keluarga di restoran mewah. Ia melihat caption tentang “quality time” dan “weekend vibes”.
Rina memejamkan mata.
Entah mengapa, ia mulai merasa hidupnya tak cukup.
Padahal di ruangan kecil yang sama, ada seorang ibu yang setiap hari memeras tenaga agar hidup itu tetap berjalan.
Malam semakin larut.
Bu Sari duduk di samping Rina yang sudah terlelap. Ia mengelus rambut putrinya pelan. Ada doa yang tak pernah putus dari bibirnya.
“Ya Allah, jangan biarkan anakku merasa kekurangan karena keadaan kami.”
Ia tak pernah meminta kekayaan.
Ia hanya meminta hati anaknya tetap lembut.
Namun dunia remaja tidak pernah sederhana.
Di usia yang labil, penerimaan teman sering terasa lebih penting daripada pelukan ibu.
Dan di sinilah semuanya akan berubah.
Bab ini adalah awal dari perjalanan seorang remaja yang pelan-pelan kehilangan arah — bukan karena ia tak dicintai, tetapi karena ia lupa melihat cinta yang paling tulus di rumah kecil itu.
Rumah yang sederhana.
Rumah yang mungkin tak indah di mata dunia.
Namun di sanalah seorang ibu setiap hari memilih untuk mengalah, agar anaknya bisa bermimpi lebih tinggi darinya.
Dan Rina…
belum menyadari,
bahwa suatu hari nanti,
ia akan merindukan masa-masa ketika ibunya masih cukup kuat untuk bekerja tanpa mengeluh.

Bab 2 — Saat Dunia Membuat Rina Merasa Kurang
“Tidak semua anak yang berubah itu nakal.
Ada yang berubah karena ingin diterima.”
Pagi itu, Rina berdiri di depan gerbang sekolah dengan langkah ragu. Seragamnya rapi, rambutnya terikat sederhana, sepatu hitamnya bersih meski sudah mulai kusam di bagian depan. Ia menghela napas kecil sebelum melangkah masuk.
Sekolah itu besar. Bangunannya tinggi. Halamannya luas. Dan isinya… orang-orang yang hidupnya terasa jauh berbeda darinya.
Sejak masuk SMA, dunia Rina seperti terbuka lebar — sekaligus terasa sempit.
Ia mulai duduk bersama anak-anak yang hidupnya tampak mudah. Mereka tak pernah bingung soal uang jajan. Tak pernah khawatir soal sepatu rusak. Tak pernah berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu yang mereka inginkan.
Rina mendengarkan mereka bercerita.
Tentang liburan ke luar kota.
Tentang kafe baru yang sedang viral.
Tentang ponsel baru yang kameranya bisa bikin wajah terlihat “lebih mahal”.
Awalnya Rina hanya tersenyum. Mengangguk. Ikut tertawa.
Namun perlahan, ada sesuatu yang tumbuh di dadanya.
Rasa kecil.
Rasa tidak cukup.
Saat istirahat pertama, mereka duduk di kantin. Meja mereka penuh dengan minuman kemasan mahal dan makanan kekinian. Rina membuka bekalnya — nasi dengan telur dadar tipis.
Ia menutupnya cepat-cepat.
“Rin, kamu nggak makan?” tanya salah satu temannya.
“Nanti aja,” jawab Rina pelan.
Padahal perutnya sudah lapar.
Bukan karena ia malu pada makanannya. Tapi karena ia malu pada hidupnya sendiri.
Siang itu, Rina pulang dengan pikiran penuh. Di motor, ia membayangkan ibunya yang mungkin sedang membungkuk di depan ember cucian. Tangannya pasti basah. Punggungnya pasti pegal.
Namun bayangan itu cepat ia tepis.
Ia tak ingin memikirkannya.
Karena setiap kali ia ingat ibunya, ia juga ingat bahwa hidupnya tidak seperti teman-temannya.
Dan itu menyakitkan.
Beberapa hari kemudian, salah satu temannya membawa tas baru ke sekolah. Warnanya cantik. Merek terkenal. Semua memuji.
Rina ikut tersenyum. Tapi dadanya terasa sesak.
Sore itu, saat Bu Sari pulang kerja, Rina sudah duduk di ruang tamu kecil. Ia memutar ponselnya, berpura-pura santai. Tapi di kepalanya, ia sudah menyusun kalimat.
“Ma,” panggilnya.
Bu Sari menoleh. “Iya, Nak?”
“Teman-teman Rina banyak yang pakai tas baru. Tas Rina sudah jelek.”
Bu Sari terdiam sejenak. Ia melirik tas Rina yang tergantung di dinding. Tas itu memang bukan baru, tapi masih layak.
“Masih bisa dipakai, Rin,” katanya hati-hati.
Rina menghela napas panjang. “Mama nggak ngerti. Di sekolah tuh semua orang lihat penampilan.”
Kalimat itu keluar tanpa nada tinggi. Tapi cukup tajam.
Bu Sari tersenyum tipis. “Nanti Mama lihat dulu ya, Nak.”
Rina mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ada kekecewaan.
Ia tak menyadari bahwa kalimat “nanti Mama lihat” sering kali berarti:
Mama akan bekerja lebih keras.
Hari-hari berikutnya, Rina semakin tenggelam dalam dunia sekolahnya. Ia mulai lebih sering membuka media sosial. Ia membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain.
Setiap foto teman-temannya terasa seperti pengingat bahwa ia tertinggal.
Ia mulai mengubah caranya berpakaian. Lebih mengikuti tren. Lebih memperhatikan penampilan. Lebih sensitif jika merasa berbeda.
Dan tanpa sadar, ia mulai merasa malu dengan kesederhanaan ibunya.
Suatu hari, wali kelas meminta siswa membawa orang tua untuk rapat singkat. Rina membaca pengumuman itu dengan jantung berdebar.
Ia membayangkan ibunya datang dengan baju sederhana. Wajah lelah. Tangan kasar.
Ia membayangkan teman-temannya melihat.
Perutnya mulas.
Malam itu, Rina duduk diam di kamar. Bu Sari mengetuk pintu.
“Rina, besok Mama izin ke sekolah ya,” katanya lembut.
Rina menoleh cepat. “Nggak usah, Ma.”
Bu Sari bingung. “Loh, kan ada rapat?”
“Rina bisa sendiri,” jawabnya cepat.
Bu Sari terdiam. “Tapi orang tua harus datang, Nak.”
Rina menunduk. Kata-kata itu ingin keluar, tapi ia menahannya.
“Aku… aku malu, Ma.”
Kalimat itu tak terucap. Tapi terasa berat di dadanya.
Akhirnya, Bu Sari tetap datang ke sekolah. Dengan baju terbaik yang ia punya. Disetrika rapi. Meski warnanya sederhana.
Rina duduk di bangku kelas dengan perasaan campur aduk. Ia melihat ibunya masuk, duduk di kursi belakang.
Beberapa teman melirik. Ada yang berbisik.
Rina menunduk. Tangannya dingin.
Sepanjang rapat, Rina tak berani menoleh.
Ia pulang dengan perasaan marah — bukan pada ibunya, tapi pada dirinya sendiri. Pada hidupnya.
Di rumah, Rina menjadi lebih pendiam. Nada bicaranya berubah. Ia mulai menjawab singkat. Kadang ketus.
Bu Sari merasakannya.
Tapi ia tak tahu harus bagaimana.
Ia hanya berpikir,
“Mungkin Rina capek sekolah.”
Ia tak tahu, putrinya sedang berperang dengan perasaannya sendiri.
Suatu sore, saat Rina sedang bersiap pergi, Bu Sari bertanya, “Mau ke mana, Nak?”
“Nongkrong,” jawab Rina singkat.
“Pulang jangan malam ya.”
Rina tak menjawab.
Ia pergi dengan perasaan aneh. Di kafe, ia tertawa. Ia bercanda. Ia berpura-pura bahagia.
Tapi di sudut hatinya, ada rasa kosong.
Ia melihat teman-temannya dengan mudah membayar pesanan. Ia menghitung uangnya pelan-pelan.
Ia mulai berpikir,
“Kalau saja hidupku lebih baik…”
Pikiran itu datang lagi dan lagi.
Malamnya, Bu Sari duduk sendirian di dapur. Ia menghitung uang hasil kerjanya hari itu. Tak banyak. Tapi cukup untuk makan besok.
Ia teringat wajah Rina di sekolah tadi. Menunduk. Tak menatapnya.
Dadanya terasa perih.
“Apakah Mama kurang?” tanyanya pada diri sendiri.
Di kamar, Rina menatap langit-langit. Ia memikirkan ibunya. Ia memikirkan sekolah. Ia memikirkan teman-temannya.
Ia merasa terjebak di tengah.
Ingin jadi diri sendiri, tapi takut tidak diterima.
Ingin jujur, tapi takut dipandang rendah.
Malam itu, hujan turun lagi. Suara seng memantul seperti denting yang tak berhenti.
Bu Sari berdoa lebih lama dari biasanya.
“Ya Allah, jika anakku sedang diuji dengan pergaulan, jaga hatinya.”
Rina mendengar doa itu dari balik pintu. Tapi ia memilih memutar tubuhnya, menutup telinga dengan bantal.
Ia tak ingin menangis.
Karena menangis berarti mengakui bahwa ia lelah berpura-pura.
Dan di sinilah awalnya.
Saat dunia luar perlahan mengajarinya bahwa nilai dirinya diukur dari apa yang ia punya.
Bukan dari siapa ibunya.
Bukan dari doa yang setiap malam dipanjatkan untuknya.
Dan Rina…
belum tahu bahwa perasaan “kurang” itu akan menuntunnya pada jalan yang semakin jauh dari rumah kecil tempat ia selalu dicintai.

Bab 3 — Hidup dalam Kepura-puraan
“Kebohongan pertama sering lahir dari rasa malu.
Kebohongan berikutnya lahir dari rasa takut kehilangan.”
Rina tidak pernah merencanakan untuk berbohong.
Semua bermula dari satu keinginan sederhana: ingin diterima. Ingin diperlakukan sama. Ingin duduk sejajar tanpa harus merasa kecil. Namun seperti air yang merembes pelan dari celah dinding, keinginan itu perlahan membesar dan tak lagi bisa dikendalikan.
Hari itu di sekolah, salah satu temannya bercerita tentang rencana ulang tahun di sebuah kafe terkenal. Semua antusias. Mereka saling bertanya, saling pamer cerita.
“Kamu tinggal di mana, Rin?” tanya seorang temannya tiba-tiba.
Rina terdiam sepersekian detik. Di kepalanya, terlintas gang sempit, rumah papan, atap seng bocor.
Ia tersenyum cepat.
“Di dekat komplek sebelah,” jawabnya.
Kalimat itu terdengar biasa. Tidak sepenuhnya bohong. Tapi juga tidak jujur.
Sejak hari itu, Rina mulai terbiasa menyederhanakan kebenaran. Ia tidak menyebut rumah kecilnya. Ia tidak menyebut pekerjaan ibunya. Ia memilih kata-kata yang aman. Kata-kata yang membuatnya terlihat “cukup”.
Teman-temannya mulai menganggap Rina seperti mereka. Mereka mengajaknya ke mana-mana. Mereka mulai bercerita tanpa sungkan.
Dan Rina merasa… diterima.
Rasa itu candu.
Ia pulang dengan langkah lebih ringan. Di rumah, Bu Sari sedang menyetrika pakaian dengan kipas kecil menyala di sampingnya. Keringat mengalir di pelipisnya.
“Rin, kamu capek?” tanya Bu Sari sambil tersenyum.
“Biasa,” jawab Rina singkat.
Ia masuk kamar dan menutup pintu. Di balik pintu itu, ada dua dunia yang tak pernah bertemu: dunia ibu yang berjuang, dan dunia remaja yang ingin diakui.
Hari-hari berikutnya, kepura-puraan itu semakin rapi.
Rina mulai memilih baju tertentu untuk dipakai ke sekolah. Ia menyimpan baju lama di bagian bawah lemari. Ia mulai meminta uang jajan lebih, dengan alasan tugas kelompok atau kebutuhan sekolah.
“Ma, Rina perlu uang lebih. Anak-anak pada iuran,” katanya suatu pagi.
Bu Sari menghentikan kegiatannya. “Iuran apa, Nak?”
“Ya… buat kegiatan,” jawab Rina cepat.
Bu Sari tidak bertanya lagi. Ia mengambil dompet kecilnya, menghitung uang pelan-pelan.
“Segini cukup?” tanyanya.
Rina mengangguk.
Ia tak melihat bagaimana tangan ibunya sedikit gemetar saat menyerahkan uang itu. Ia tak mendengar napas panjang yang ditahan agar tak terdengar berat.
Di sekolah, uang itu berubah menjadi minuman mahal, cemilan kekinian, dan foto-foto yang diunggah ke media sosial.
Rina tersenyum di kamera.
Tak ada yang tahu bahwa senyum itu dibayar dengan tubuh ibu yang semakin lelah.
Suatu sore, Rina duduk bersama teman-temannya di kafe. Mereka membahas rencana liburan.
“Ayahku mau ngajak ke luar kota,” kata seorang temannya.
“Ih enak,” sahut yang lain.
Semua mata beralih ke Rina. “Kalau kamu, Rin?”
Jantung Rina berdegup kencang.
Ia bisa saja jujur. Ia bisa saja tertawa dan berkata bahwa liburan bukan bagian dari hidupnya.
Tapi ia takut.
Takut berubah. Takut berbeda. Takut ditinggalkan.
“Ayahku sibuk,” katanya akhirnya. “Mungkin nanti.”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Dan di situlah kebohongan itu benar-benar lahir.
Sejak saat itu, cerita tentang “ayah” mulai muncul. Tentang “usaha keluarga”. Tentang “rencana pindah rumah”.
Setiap kebohongan membutuhkan kebohongan lain untuk menutupinya.
Dan Rina mulai lelah.
Namun ia tak tahu cara berhenti.
Di rumah, Bu Sari semakin sering pulang dengan wajah pucat. Ia menerima cucian lebih banyak. Ia pulang lebih malam. Kadang ia batuk-batuk sambil memijat punggungnya.
“Ma, kok Mama sering batuk?” tanya Rina suatu malam.
“Masuk angin sedikit,” jawab Bu Sari sambil tersenyum.
Rina mengangguk. Tapi pikirannya sudah melayang ke hal lain.
“Ma… minggu depan Rina butuh sepatu baru.”
Bu Sari terdiam. “Sepatu yang sekarang masih bagus, Nak.”
“Udah nggak layak,” jawab Rina cepat. “Semua anak pakai model baru.”
Kata “semua” itu membuat Bu Sari merasa kecil.
Ia menghela napas pelan. “Mama usahakan ya.”
Malam itu, Bu Sari menghitung uangnya berkali-kali. Ia memikirkan bagaimana caranya menambah kerja. Ia memikirkan apakah harus meminjam.
Sementara Rina tertidur dengan pikiran tenang.
Ia tak tahu bahwa “Mama usahakan” sering berarti:
Mama menunda kebutuhan sendiri.
Beberapa hari kemudian, Rina datang ke sekolah dengan sepatu baru. Teman-temannya memuji. Ia tersenyum bangga.
“Bagus banget, Rin!”
“Beli di mana?”
Rina menyebut nama toko. Ia menambahkan sedikit cerita agar terdengar meyakinkan.
Dan saat itu, ada perasaan aneh di dadanya.
Senang… tapi juga hampa.
Seolah-olah kebahagiaan itu tidak pernah benar-benar miliknya.
Ia mulai menjaga jarak dengan ibunya. Bukan karena benci. Tapi karena setiap melihat ibunya, ia teringat kebohongannya sendiri.
Ia mulai jarang duduk lama di rumah. Ia lebih sering keluar. Ia pulang dengan wajah lelah, tapi bukan karena bekerja — melainkan karena berpura-pura.
Suatu malam, listrik di rumah mereka hampir diputus karena telat bayar. Bu Sari duduk diam, menatap meteran.
Rina melihatnya dari jauh.
“Kenapa, Ma?” tanyanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Bu Sari cepat. “Mama cari jalan.”
Rina mengangguk. Ia kembali ke kamarnya.
Ia tidak tahu bahwa “mencari jalan” sering berarti:
Mama menahan malu, menahan lelah, menahan sakit.
Hari demi hari, Rina semakin jauh dari dirinya sendiri.
Ia bukan lagi Rina yang sederhana. Tapi juga bukan Rina yang benar-benar kaya.
Ia berada di tengah — lelah menjaga citra, takut kehilangan teman, dan perlahan kehilangan empati.
Suatu sore, salah satu temannya berkata, “Rin, rumah kamu besar ya?”
Rina tertawa kecil. “Biasa aja.”
“Suatu hari kita main ke rumah kamu dong.”
Kalimat itu membuat darah Rina berdesir.
“Nanti aja,” jawabnya cepat. “Rumah lagi renovasi.”
Kebohongan itu keluar tanpa ragu.
Malam itu, Rina tak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar. Ia merasa seperti berdiri di atas pasir yang terus bergeser.
Ia ingin berhenti. Tapi ia tak tahu bagaimana caranya mengaku.
Karena mengaku berarti runtuh.
Dan ia belum siap melihat semua yang ia bangun dengan kebohongan itu hancur.
Di dapur, Bu Sari duduk sendiri. Ia memijat kakinya yang pegal. Ia menatap foto kecil Rina yang ditempel di dinding.
“Anakku berubah,” bisiknya pelan.
Bukan karena ia tak lagi mencintai.
Tapi karena ia tak lagi dekat.
Bu Sari tidak tahu bahwa di balik pintu kamar itu, Rina sedang berperang dengan rasa bersalahnya sendiri.
Ia tidak tahu bahwa anaknya mulai tersesat bukan karena ingin jahat — melainkan karena terlalu ingin diakui.
Dan di sinilah segalanya mulai retak.
Karena kebohongan yang awalnya kecil, kini mulai meminta harga yang lebih mahal.
Harga berupa kejujuran.
Harga berupa empati.
Dan perlahan…
harga berupa hormat kepada ibu sendiri.
Bab ini adalah tentang kepura-puraan yang terasa aman, sampai akhirnya menjadi penjara.
Dan Rina belum tahu,
bahwa di bab berikutnya,
kepura-puraan itu akan berubah menjadi tuntutan —
dan tuntutan itu akan melukai orang yang paling tulus mencintainya.

Bab 4 — Ibu yang Terus Memberi, Anak yang Tak Pernah Cukup
“Seorang ibu bisa kelelahan sampai tubuhnya menyerah,
tapi hatinya sering tetap bertahan.”
Bu Sari mulai mengenali rasa lelah yang berbeda.
Bukan lelah biasa yang bisa hilang dengan tidur semalam. Tapi lelah yang menumpuk, menetap di punggung, merayap ke lutut, dan kadang membuat napas terasa pendek. Namun setiap kali rasa itu datang, ia selalu mengingat satu hal: Rina.
Selama Rina masih sekolah, selama Rina masih bisa berdiri sejajar dengan teman-temannya, Bu Sari merasa semua rasa sakit itu layak ditukar.
Pagi-pagi sekali, sebelum fajar benar-benar muncul, Bu Sari sudah mengangkat keranjang cucian yang lebih besar dari biasanya. Hari itu ia menerima tiga rumah sekaligus. Tubuhnya sebenarnya ingin menolak. Tangannya masih nyeri sejak kemarin. Namun pikirannya mengingat permintaan Rina semalam.
“Ma, minggu depan Rina ada kegiatan sekolah. Butuh uang.”
Tak banyak penjelasan. Tak banyak alasan. Hanya kalimat singkat, tapi cukup membuat Bu Sari menambah pekerjaan.
Di rumah majikan pertama, Bu Sari mencuci pakaian seharian. Air sabun membuat kulit tangannya terasa perih. Ia sempat berhenti sejenak, menatap jemari yang mulai mengelupas.
Ia tersenyum kecil.
“Ah, nanti juga sembuh,” gumamnya.
Ia tak pernah memikirkan kesehatannya sebagai sesuatu yang penting. Yang penting, anaknya tidak kekurangan.
Sementara itu, Rina bangun pagi dengan perasaan biasa saja. Ia melihat sepatu barunya di sudut kamar dan merasa puas. Ia membuka ponsel, melihat komentar teman-temannya di foto kemarin.
“Kece banget, Rin.”
Ia tersenyum.
Tak ada rasa bersalah. Belum.
Hari itu di sekolah, Rina kembali merasa “kurang”. Temannya membawa ponsel baru. Yang lain bercerita tentang rencana liburan. Dan lagi-lagi, rasa itu muncul.
Ia pulang dengan pikiran penuh.
Di rumah, Bu Sari baru saja datang. Bajunya basah. Rambutnya lepek. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya.
“Ma, aku butuh HP baru.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa basa-basi.
Bu Sari terdiam. Ia belum sempat duduk. Kakinya masih gemetar karena berdiri seharian.
“HP kamu kan masih bisa dipakai, Nak,” jawabnya pelan.
“Bisa sih, tapi kameranya jelek. Semua teman aku pakai yang bagus,” Rina menjawab cepat.
Nada suaranya tidak tinggi. Tapi dingin.
Bu Sari menelan ludah. Ia duduk perlahan di kursi kayu. “Mama belum tahu uang dari mana.”
Rina menghela napas keras. “Mama selalu bilang gitu.”
Kalimat itu membuat Bu Sari terdiam lama.
Bukan karena marah. Tapi karena hatinya terasa ditusuk.
Ia menunduk. “Mama usahakan ya.”
Rina mengangguk, lalu masuk kamar.
Tak ada terima kasih.
Tak ada pelukan.
Tak ada pertanyaan: “Mama capek?”
Malam itu, Bu Sari tidak langsung tidur. Ia membuka dompet kecilnya. Ia menghitung uang berkali-kali. Ia memikirkan siapa lagi yang bisa ia datangi untuk bekerja.
Ia bahkan sempat berpikir untuk meminjam.
Bukan untuk dirinya.
Untuk anaknya.
Di kamar, Rina tidur dengan lampu mati. Ponselnya di samping bantal. Ia bermimpi tentang hidup yang lebih mudah. Tentang dunia di mana ia tak perlu berpura-pura.
Namun ia tak tahu, di ruang tamu kecil, ibunya sedang menahan tangis.
Hari-hari berikutnya, Bu Sari semakin jarang beristirahat. Ia bangun lebih pagi, pulang lebih malam. Batuknya semakin sering. Punggungnya semakin sering dipijat pelan sebelum tidur.
Tetangga sempat menegur, “Bu Sari, jangan terlalu memaksakan diri.”
Ia hanya tersenyum. “Masih kuat.”
Padahal tubuhnya sudah memberi tanda.
Suatu siang, Bu Sari hampir pingsan di rumah majikannya. Pandangannya berkunang. Tangannya gemetar. Ia duduk di lantai dingin, menarik napas dalam-dalam.
Yang ia pikirkan bukan rumah sakit.
Yang ia pikirkan adalah:
“Uang hari ini cukup nggak ya buat Rina?”
Sementara itu, Rina sedang duduk di kelas. Temannya menunjukkan ponsel barunya.
“Rin, kamu kapan ganti?”
Rina tertawa kecil. “Sebentar lagi.”
Kalimat itu seperti janji pada dirinya sendiri.
Sore hari, Bu Sari pulang lebih lambat. Ia membawa wajah pucat dan langkah tertatih. Rina melihatnya sekilas.
“Ma, besok aku ada tugas kelompok. Perlu uang lagi.”
Bu Sari mengangguk. “Iya, Nak.”
Ia tak bertanya.
Ia tak menolak.
Rina mulai menganggap itu wajar.
Ia lupa bahwa “iya” itu dibayar dengan tubuh yang semakin rapuh.
Malam itu, hujan turun deras. Air kembali menetes dari atap. Bu Sari bangun untuk memindahkan ember. Kakinya terpeleset sedikit. Ia meringis.
Rina terbangun karena suara ember jatuh.
“Ma?” panggilnya.
“Iya, Nak. Tidur saja,” jawab Bu Sari cepat.
Rina berbalik badan.
Ia memilih tidur kembali.
Tak ada niat jahat.
Hanya kelelahan yang salah tempat.
Hari demi hari, Rina semakin sering meminta. Dan setiap permintaan membuat Bu Sari semakin tenggelam dalam kelelahan.
Bu Sari mulai sering lupa makan. Ia mulai sering minum obat warung. Ia mulai sering merasakan nyeri yang tak biasa.
Namun di depan Rina, ia tetap tersenyum.
Karena bagi seorang ibu, senyum adalah cara terakhir untuk mengatakan:
“Aku masih sanggup.”
Sampai suatu hari, Bu Sari pulang dengan wajah sangat pucat. Ia duduk lama di ruang tamu, menatap kosong.
Rina melihatnya dari jauh.
“Ma, Mama kenapa?” tanyanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Bu Sari pelan. “Mama cuma capek.”
Kata “capek” itu terdengar biasa.
Padahal di dalamnya, ada tubuh yang hampir menyerah.
Ada hati yang tetap bertahan.
Rina masuk kamar. Ia menutup pintu. Ia membuka ponselnya. Ia melihat foto-foto temannya.
Ia kembali merasa kurang.
Ia tak tahu bahwa rasa “kurang” itu sedang menggerogoti orang yang setiap hari memilih mengalah demi dirinya.
Bab ini adalah tentang seorang ibu yang terus memberi meski tak lagi kuat.
Dan tentang seorang anak yang tak pernah benar-benar merasa cukup.
Karena ketika hati mulai mengukur nilai diri dari dunia luar,
cinta yang paling dekat sering tak lagi terlihat.
Dan di bab berikutnya, luka itu akan terbuka lebih lebar.
Karena akan datang hari
di mana Rina tidak hanya meminta,
tapi juga menyangkal.
Dan hari itu akan menjadi luka terdalam bagi seorang ibu.

Bab 5 — Puncak Kedurhakaan
“Kadang durhaka tidak lahir dari kebencian,
tapi dari rasa malu yang salah tempat.”
Hari itu seharusnya menjadi hari biasa.
Langit cerah. Matahari tidak terlalu terik. Rina berangkat sekolah dengan perasaan sedikit gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak pagi, tapi ia memilih mengabaikannya. Ia mengira itu hanya perasaan lelah yang datang dan pergi.
Di sekolah, suasana lebih ramai dari biasanya. Beberapa siswa membicarakan acara kelas yang akan datang. Ada juga yang sibuk merencanakan nongkrong sepulang sekolah.
Rina duduk bersama kelompoknya, tertawa kecil, ikut menimpali obrolan. Di luar, ia terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam, pikirannya bercabang ke mana-mana.
“Eh, nanti sore jadi ke tempat biasa, kan?” tanya salah satu temannya.
“Iya dong,” sahut yang lain.
Rina mengangguk. “Aku ikut.”
Ia tidak tahu bahwa keputusan sederhana itu akan membawanya pada hari yang paling ia sesali seumur hidup.
Sementara itu, di rumah besar di komplek sebelah sekolah, Bu Sari sedang mencuci pakaian sejak pagi. Hari itu, cucian terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena jumlahnya saja, tapi karena tubuhnya terasa semakin lemah.
Tangannya gemetar ketika memeras pakaian tebal. Dadanya terasa sesak. Beberapa kali ia berhenti, duduk di bangku kecil, menarik napas panjang.
“Sebentar lagi selesai,” katanya pada dirinya sendiri.
Ia tahu, jika ia berhenti sekarang, uang hari itu tak akan ia dapatkan sepenuhnya. Dan di kepalanya, wajah Rina muncul lagi.
Bu Sari kembali berdiri. Ia memaksakan diri.
Menjelang sore, Rina dan teman-temannya berjalan keluar dari sekolah. Mereka tertawa, saling bercanda, lalu memutuskan memotong jalan lewat komplek perumahan. Jalan itu lebih dekat menuju kafe tempat mereka biasa nongkrong.
Rina mengikuti mereka, sambil sesekali mengecek ponselnya.
Dan di situlah ia melihatnya.
Di halaman salah satu rumah besar, seorang perempuan dengan pakaian sederhana sedang mencuci pakaian. Rambutnya diikat asal. Tangannya penuh busa. Tubuhnya sedikit membungkuk.
Bu Sari.
Untuk sesaat, Rina berhenti melangkah.
Darahnya terasa turun ke kaki.
Dunia seakan berhenti berputar.
Ia berharap matanya salah. Ia berharap perempuan itu bukan ibunya. Tapi gerakan itu, wajah itu—ia mengenalnya terlalu baik.
Bu Sari juga melihat Rina.
Wajahnya langsung berbinar. Ada senyum yang begitu tulus, begitu polos, seolah semua rasa sakit di tubuhnya tiba-tiba hilang.
“Rina…” panggilnya pelan sambil sedikit melambaikan tangan.
Teman-teman Rina ikut menoleh.
“Eh, itu siapa?” tanya salah satu dari mereka.
Rina panik.
Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya penuh. Ia merasa semua mata tertuju padanya. Ia merasa semua kebohongannya berdiri di ambang runtuh.
“Kayaknya mirip ibumu, Rin,” celetuk temannya sambil tertawa kecil.
Detik itu juga, rasa malu menguasai Rina sepenuhnya.
Ia merasa kecil. Ia merasa telanjang. Ia merasa dunia menertawakannya.
Dan tanpa berpikir panjang, ia melakukan hal yang akan menghantuinya seumur hidup.
Rina memalingkan wajah.
Ia mempercepat langkah.
Ia berpura-pura tidak mendengar.
“Eh, Rin, itu beneran ibumu?” tanya temannya lagi.
Rina tertawa kaku. “Bukan. Mirip aja kali.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Ringan.
Pendek.
Namun mematikan.
Bu Sari masih berdiri di sana, tangannya menggenggam pakaian basah.
 Senyumnya perlahan memudar. Tangannya yang terangkat perlahan turun.
Ia melihat punggung Rina menjauh.
Ia tidak mengejar.
Ia tidak memanggil lagi.
Ia hanya menunduk.
Entah mengapa, dada Bu Sari terasa sesak sekali. Lebih sakit dari pegal di punggungnya. Lebih perih dari luka di tangannya.
Ia kembali mencuci, tapi air mata menetes tanpa suara, bercampur dengan air sabun.
“Tidak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri.
“Mungkin Rina sedang capek.”
Namun hatinya tahu, ada sesuatu yang berubah.
Di kafe, Rina duduk dengan wajah pucat. Tawa teman-temannya terdengar jauh. Minuman di depannya tak disentuh.
Salah satu temannya berkata pelan, “Kamu kenapa, Rin?”
“Pusing,” jawabnya singkat.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia melakukan hal yang benar. Bahwa itu hanya demi menjaga harga diri. Bahwa itu bukan masalah besar.
Tapi ada suara kecil di dalam dadanya yang berbisik,
“Kamu baru saja menyakiti orang yang paling mencintaimu.”
Malam itu, Rina pulang lebih cepat dari biasanya. Ia membuka pintu rumah dengan langkah pelan. Rumah terasa sunyi.
Bu Sari belum pulang.
Rina duduk di ruang tamu kecil. Ia menunggu. Jam berdetak pelan. Setiap menit terasa panjang.
Akhirnya, pintu terbuka. Bu Sari masuk dengan langkah berat. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
“Ma…” panggil Rina ragu.
Bu Sari menoleh. “Iya, Nak?”
Nada suaranya sama seperti biasa. Lembut. Tidak marah. Tidak menuduh.
Justru itu yang membuat dada Rina terasa sesak.
Namun rasa bersalah itu segera ditutupi oleh ego yang masih bertahan.
“Ma, jangan ke tempat itu lagi kalau aku masih sekolah,” kata Rina tiba-tiba.
Bu Sari terdiam.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
“Malulah, Ma. Dilihat teman-teman,” jawab Rina cepat. Nada suaranya mulai meninggi. “Mama kan bisa kerja di tempat lain.”
Kalimat itu.
Kalimat itu seperti pisau.
Bu Sari berdiri diam. Tangannya gemetar. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahannya.
“Mama cuma kerja, Nak,” katanya hampir berbisik.
“Ya tapi jangan di situ!” Rina membalas. “Aku malu!”
Kata itu kembali keluar. Lebih keras. Lebih kejam.
Bu Sari menunduk. Ia mengangguk pelan.
“Iya,” katanya singkat. “Maafkan Mama.”
Kalimat itu membuat Rina terdiam sesaat.
Maafkan Mama.
Bukan karena ia salah.
Tapi karena ia tidak ingin menyakiti anaknya lebih jauh.
Bu Sari masuk kamar tanpa berkata apa-apa lagi. Ia menutup pintu perlahan.
Di dalam kamar, ia duduk di tepi kasur. Tubuhnya gemetar. Air mata akhirnya jatuh.
Bukan karena marah.
Bukan karena kecewa.
Tapi karena ia merasa gagal sebagai ibu.
“Mungkin Mama memang memalukan,” bisiknya.
Di luar kamar, Rina berdiri kaku. Dadanya terasa sesak. Ia ingin mengetuk pintu. Ia ingin meminta maaf.
Namun egonya masih berdiri.
Ia memilih masuk kamar dan menutup pintu.
Malam itu, dua orang menangis di dua ruangan yang berbeda.
Satu karena disakiti.
Satu karena belum cukup berani mengakui kesalahan.
Dan di sanalah puncak kedurhakaan itu terjadi.
Bukan dengan teriakan.
Bukan dengan kekerasan.
Melainkan dengan satu penyangkalan sederhana:
menyangkal seorang ibu di depan dunia.
Rina tidak tahu, malam itu Bu Sari demam tinggi. Tubuhnya lemah. Batuknya semakin parah.
Ia tidak tahu bahwa luka di hati ibunya jauh lebih berat dari sakit di tubuhnya.
Dan ia tidak tahu…
bahwa waktu untuk memperbaiki semuanya
tidak akan sepanjang yang ia kira.
Bab ini adalah titik terendah.
Karena setelah seorang anak menyangkal ibunya,
Tuhan sering memberi jeda singkat —
bukan untuk menghukum,
tetapi untuk menyadarkan.
Dan di bab berikutnya,
penyesalan itu akan datang
bukan dengan kata-kata,
melainkan dengan tubuh ibu
yang akhirnya menyerah.

Bab 6 — Saat Penyesalan Datang Terlambat
“Penyesalan paling menyakitkan adalah yang datang
ketika kita tak lagi punya banyak waktu untuk memperbaiki.”
Pagi itu, rumah kecil mereka terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tidak ada suara langkah Bu Sari di dapur. Tidak ada bunyi kompor dinyalakan. Tidak ada aroma nasi hangat. Rina membuka mata dengan perasaan aneh—seperti ada sesuatu yang hilang, tapi ia belum tahu apa.
Ia bangun, melirik jam. Sudah lewat pukul enam.
Biasanya, ibunya sudah lama pergi.
“Ma?” panggil Rina dari kamar.
Tidak ada jawaban.
Rina keluar kamar. Rumah terasa dingin. Tirai jendela masih tertutup. Ember di dapur penuh air hujan yang bocor semalam. Catatan kecil yang biasanya ada di meja—tidak ada.
Jantung Rina berdetak lebih cepat.
Ia mengetuk pintu kamar ibunya. “Ma?”
Tak ada suara.
Rina mendorong pintu perlahan. Di dalam, Bu Sari terbaring di kasur tipis. Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi dahinya. Napasnya pendek-pendek.
“Ma…” suara Rina bergetar.
Ia mendekat. Menyentuh tangan ibunya. Panas.
“Ma, bangun, Ma.”
Bu Sari membuka mata sedikit. Pandangannya buram. “Rina…” bisiknya lemah.
Ada sesuatu di suara itu—sesuatu yang membuat tenggorokan Rina tercekat.
“Ma sakit?” tanya Rina panik.
Bu Sari mencoba tersenyum, tapi gagal. “Mama nggak apa-apa… cuma capek.”
Kalimat itu terdengar sama seperti biasanya. Tapi kali ini, Rina tahu—ini berbeda.
Rina mencari obat di lemari kecil. Obat warung. Ia memberikannya dengan tangan gemetar. Bu Sari menelannya pelan.
“Ma, hari ini jangan kerja dulu ya,” kata Rina.
Bu Sari menggeleng pelan. “Mama harus… kerja.”
“Jangan, Ma,” Rina mulai menangis. “Aku bisa izin sekolah.”
Bu Sari menatapnya lama. Pandangannya lembut, tapi lelah. “Sekolah yang bener, Nak.”
Kalimat itu membuat dada Rina terasa diremas.
Ia teringat semua sikapnya. Semua kata-kata dingin. Semua rasa malu yang ia tumpahkan pada ibunya.
Dan pagi itu, penyesalan mulai mengalir—pelan tapi pasti.
Rina membantu ibunya duduk. Tubuh Bu Sari terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti tubuh yang sudah lama kelelahan.
Ia mengantar ibunya ke puskesmas dengan motor tua. Di sepanjang jalan, Rina berdoa dalam hati. Berkali-kali.
“Ya Allah, tolong Mama.”
Di ruang tunggu, Rina menggenggam tangan ibunya. Tangannya kasar. Penuh bekas kerja keras. Rina menatapnya lama—seolah baru benar-benar melihat.
Ia teringat tangan itu yang menyerahkan uang jajan. Tangan itu yang mencuci, menyetrika, mengepel. Tangan itu yang mengelus rambutnya saat kecil.
Dan tangan itu kini dingin.
Dokter keluar dengan wajah serius. “Ibunya kelelahan berat. Anemia. Tekanan darahnya turun. Harus istirahat total.”
Kata-kata itu seperti palu.
“Istirahat total?” ulang Rina pelan.
Dokter mengangguk. “Tidak boleh kerja dulu. Kalau dipaksakan, bisa berbahaya.”
Rina menelan ludah. “Kalau… kalau nggak istirahat?”
Dokter menatapnya. “Risikonya besar.”
Rina menunduk. Air matanya jatuh ke lantai.
Di rumah, Bu Sari terbaring lemah. Rina duduk di sampingnya, tak berani jauh-jauh. Ia mengompres dahi ibunya. Mengganti air. Menyeka keringat.
“Ma, maafin Rina,” katanya tiba-tiba.
Bu Sari membuka mata perlahan. “Kenapa?”
“Rina jahat,” suara Rina bergetar. “Rina malu punya Mama. Rina nyakitin Mama.”
Air mata Bu Sari mengalir pelan. Ia menggeleng lemah. “Mama nggak pernah sakit hati sama Rina.”
Kalimat itu justru membuat Rina menangis lebih keras.
“Jangan bilang gitu, Ma. Rina salah.”
Bu Sari mengangkat tangan dengan susah payah, mengusap pipi Rina. “Mama cuma ingin Rina bahagia.”
Di meja kecil dekat kasur, Rina melihat sebuah amplop cokelat. Ia mengambilnya perlahan. Di dalamnya, ada uang—jumlahnya tidak sedikit.
Dan selembar kertas terlipat.
Tulisan tangan ibunya goyah, seolah ditulis dengan sisa tenaga.
“Kalau Mama kenapa-kenapa,
uang ini untuk keperluan sekolahmu.
Jangan berhenti belajar.
Jangan malu punya Mama seperti ini.
Mama bangga sama kamu.”
Rina membaca ulang. Berkali-kali.
Dadanya sesak. Napasnya pendek. Dunia terasa mengecil.
“Ma…” Rina memeluk ibunya. “Jangan pergi, Ma. Rina janji berubah.”
Bu Sari memejamkan mata. “Mama di sini, Nak.”
Hari-hari berikutnya, Rina benar-benar berhenti dari dunianya. Ia tak ke kafe. Ia tak nongkrong. Ia tak membuka media sosial. Ia di rumah—memasak seadanya, mencuci piring, menjemur pakaian.
Ia melakukan hal-hal yang selama ini ia anggap remeh.
Dan setiap kali punggungnya pegal, setiap kali tangannya perih karena sabun, Rina merasa dadanya diremas.
“Selama ini Mama begini… setiap hari,” bisiknya.
Malam-malam berlalu dengan sunyi. Rina sering terbangun, memastikan ibunya bernapas normal. Ia duduk di samping kasur, memandangi wajah ibunya yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
Ia berdoa. Lebih lama dari biasanya.
“Ya Allah, beri Rina waktu.”
Waktu untuk meminta maaf.
Waktu untuk memperbaiki.
Waktu untuk membalas—meski sedikit—semua pengorbanan.
Suatu sore, Bu Sari membuka mata dan menatap Rina lama.
“Rina…”
“Iya, Ma?”
“Kamu jangan tinggalkan sekolah ya,” katanya pelan. “Mama takut kamu menyesal.”
Rina menggeleng. “Rina takut kehilangan Mama.”
Bu Sari tersenyum tipis. “Semua orang akan pergi, Nak. Tapi kebaikan… jangan.”
Kalimat itu tertanam dalam-dalam di hati Rina.
Hari itu, Rina menangis lagi. Tapi kali ini, bukan karena malu. Melainkan karena cinta yang akhirnya ia pahami—terlambat.
Bab ini adalah tentang waktu yang menyempit.
Tentang penyesalan yang datang ketika kita baru benar-benar melihat.
Dan tentang cinta seorang ibu yang bahkan di titik terlemah, masih memikirkan masa depan anaknya.
Di bab terakhir nanti,
Rina akan memilih jalan pulang.
Bukan ke rumah kecil itu saja,
tapi ke hati yang pernah ia tinggalkan.

Bab 7 — Jalan Pulang Bernama Kesadaran
“Kadang kita harus hampir kehilangan,
baru benar-benar belajar menghargai.”
Rumah kecil itu masih sama.
Atapnya masih bocor saat hujan turun deras. Dindingnya masih lembap di sudut-sudut tertentu. Lantainya masih berderit ketika diinjak.
Namun bagi Rina, rumah itu tak lagi terasa sempit.
Ia tidak lagi melihatnya sebagai tempat yang memalukan.
Ia melihatnya sebagai tempat di mana cinta tinggal paling lama.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, Bu Sari mulai sedikit membaik. Tubuhnya belum sepenuhnya kuat. Ia masih sering batuk. Ia masih harus banyak beristirahat. Tapi wajahnya sudah tidak sepucat dulu.
Rina tidak membiarkannya bekerja lagi.
Setiap pagi, kini Rina yang bangun lebih dulu. Ia menanak nasi. Ia menggoreng telur. Ia membersihkan rumah. Tangan yang dulu hanya memegang ponsel kini mulai terbiasa memeras kain pel.
Awalnya canggung.
Awalnya melelahkan.
Tapi setiap kali rasa pegal datang, Rina teringat sesuatu:
Ibunya melakukan ini bertahun-tahun.
Tanpa mengeluh.
Suatu pagi, Bu Sari mencoba bangun lebih awal.
“Mama bisa bantu,” katanya pelan.
Rina cepat-cepat mendekat. “Jangan, Ma. Mama istirahat saja.”
Bu Sari menatap putrinya lama. Ada sesuatu yang berbeda di wajah Rina. Bukan hanya lebih dewasa—tapi lebih lembut.
“Rina kenapa berubah?” tanya Bu Sari lirih.
Rina tersenyum, meski matanya berkaca-kaca.
“Karena Rina hampir kehilangan Mama.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Bu Sari terdiam.
Rina memang berubah.
Ia mulai membatasi pergaulannya. Ia berhenti berbohong. Ia bahkan mengirim pesan pada beberapa temannya, mengakui bahwa selama ini ia tidak sepenuhnya jujur tentang hidupnya.
Beberapa menjauh.
Beberapa hanya membaca tanpa membalas.
Dan untuk pertama kalinya, Rina tidak merasa hancur.
Karena kini ia tahu, harga dirinya tidak lagi bergantung pada penerimaan orang lain.
Di sekolah, ia berjalan lebih tenang. Ia tidak lagi sibuk membandingkan diri. Ia tidak lagi memaksakan diri untuk terlihat “lebih”.
Ia mulai fokus belajar.
Ia mulai pulang tepat waktu.
Suatu hari, salah satu temannya mendekat.
“Rin, kamu berubah ya.”
Rina tersenyum kecil. “Iya. Aku cuma lagi belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak malu sama hidupku sendiri.”
Jawaban itu membuat suasana hening sejenak.
Dan untuk pertama kalinya, Rina merasa benar-benar jujur.
Di rumah, Rina mulai mencari pekerjaan kecil sepulang sekolah. Ia membantu di warung tetangga. Tidak besar penghasilannya. Tapi cukup untuk membeli kebutuhan sendiri tanpa harus meminta.
Pertama kali ia memberikan uang hasil kerjanya kepada ibunya, Bu Sari menolak.
“Tidak usah, Nak. Simpan saja.”
Rina menggeleng. “Dulu Mama nggak pernah bilang capek. Sekarang biar Rina yang bantu.”
Bu Sari memeluknya.
Pelukan itu berbeda.
Tidak lagi ada jarak.
Tidak lagi ada gengsi.
Hanya dua hati yang kembali saling mengerti.
Suatu malam, hujan turun deras seperti biasa. Air kembali menetes di dapur. Rina meletakkan ember di bawahnya sambil tersenyum kecil.
“Ma, nanti kalau Rina sudah kerja tetap, kita perbaiki atapnya ya.”
Bu Sari tersenyum. “Pelan-pelan saja, Nak.”
Rina menatap ibunya lama. Wajah itu masih terlihat lelah. Garis-garis usia tidak hilang. Tangan itu masih kasar.
Tapi bagi Rina, tangan itu kini terlihat paling mulia.
Ia teringat hari ketika ia berpura-pura tidak mengenali ibunya.
Dan setiap kali ingatan itu datang, dadanya masih terasa perih.
Penyesalan memang tidak bisa dihapus.
Tapi bisa dijadikan pengingat.
Suatu sore, Rina duduk di teras kecil rumah mereka. Angin bertiup pelan. Ia menatap gang sempit yang dulu membuatnya malu.
Kini ia melihatnya berbeda.
Gang itu adalah saksi.
Saksi perjuangan ibunya.
Saksi kebodohannya sendiri.
Dan saksi perubahan yang ia pilih.
“Ma…” panggil Rina lembut.
“Iya, Nak?”
“Kalau waktu bisa diulang, Rina mau jadi anak yang lebih baik dari dulu.”
Bu Sari tersenyum. “Waktu nggak bisa diulang. Tapi hati bisa diperbaiki.”
Rina memejamkan mata. Air matanya jatuh perlahan.
Ia belajar satu hal penting:
Menjadi kaya bukan soal sepatu mahal atau ponsel terbaru.
Menjadi terhormat bukan soal dipuji teman.
Menjadi berharga bukan soal terlihat sempurna di mata dunia.
Menjadi berharga adalah ketika kita tidak melukai orang yang paling tulus mencintai kita.
Beberapa bulan kemudian, nilai Rina meningkat. Ia mulai dikenal sebagai siswi yang rajin. Guru-gurunya memperhatikan perubahan itu.
Di acara kelulusan nanti, Rina berdiri di panggung kecil sekolah untuk menerima penghargaan atas peningkatan prestasi.
Di antara kerumunan orang tua, Bu Sari berdiri dengan pakaian sederhana—bukan yang paling mewah, bukan yang paling mencolok.
Tapi Rina tidak lagi menunduk.
Ia mencari wajah ibunya. Dan ketika mata mereka bertemu, Rina tersenyum lebar.
Bangga.
Bukan karena dirinya.
Tapi karena ibunya.
Setelah acara selesai, Rina berjalan menghampiri Bu Sari dan menggenggam tangannya erat—di depan semua orang.
Tanpa malu.
Tanpa ragu.
Tanpa pura-pura.
“Ini Mama,” katanya pelan pada temannya yang berdiri di dekatnya.
Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Karena kini Rina tahu, rumah kecil itu mungkin tak pernah terlihat megah.
Tapi di sanalah ia belajar arti cinta.
Dan cinta seorang ibu tidak pernah meminta balasan.
Tidak pernah menghitung luka.
Tidak pernah menyimpan dendam.
Ia hanya berharap satu hal:
anaknya tidak tersesat terlalu jauh.
Rina hampir tersesat.
Hampir kehilangan.
Hampir menyesal seumur hidup.
Namun Tuhan masih memberinya waktu.
Dan waktu itu ia gunakan untuk pulang.
Bukan sekadar pulang ke rumah kecil di ujung gang.
Tapi pulang pada rasa hormat.
Pulang pada syukur.
Pulang pada cinta yang tak pernah pergi.

🌿 Pesan untuk Setiap Anak
Jika hari ini orang tuamu masih ada,
jangan tunggu mereka sakit untuk menyadari.
Jangan tunggu mereka lemah untuk meminta maaf.
Jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Karena tidak semua orang diberi kesempatan kedua.
Dan Rina…
akhirnya belajar bahwa yang paling memalukan bukanlah memiliki ibu yang miskin.
Yang paling memalukan adalah ketika kita punya ibu yang luar biasa,
tapi kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai tak pernah melihatnya.

Epilog — Jika Waktu Masih Mengizinkan
Rina tidak menjadi anak yang sempurna.
Ia masih belajar.
Masih jatuh bangun.
Masih sering menyesali masa lalu.
Namun satu hal telah berubah:
ia tidak lagi berjalan sendirian.
Setiap langkahnya kini selalu ia niatkan sebagai doa untuk ibunya.
Setiap keberhasilannya ia anggap titipan.
Dan setiap lelahnya ia jadikan pengingat —
bahwa dulu ada tubuh yang lebih lelah darinya,
tapi tetap memilih bertahan demi dirinya.
Rina tahu, ia tidak bisa menghapus kesalahan.
Tapi ia bisa memilih untuk tidak mengulanginya.
Dan selama ibunya masih ada,
ia akan terus pulang.

Pesan untuk Pembaca
Jika kamu masih bisa mendengar suara ibumu hari ini,
itu bukan hal biasa — itu karunia.
Jika kamu masih bisa melihatnya bekerja,
itu bukan kewajiban — itu pengorbanan.
Dan jika kamu pernah merasa malu pada orang tuamu,
ingatlah:
malu yang sesungguhnya adalah saat kita baru sadar setelah kehilangan.
Kisah Rina mungkin bukan kisah semua orang.
Tapi hampir setiap anak pernah berada di persimpangan yang sama.
Pilih dunia, atau pilih orang yang mencintaimu tanpa syarat.
Semoga kita semua diberi hati yang lembut
sebelum penyesalan datang terlambat.



Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa