Luka dalam Ikatan Darah


Luka dalam Ikatan Darah


Sejak kecil, Rahayu dan Via dikenal sebagai kakak-adik yang tidak pernah jauh berbeda. Mereka tumbuh di bawah atap yang sama, makan di meja yang sama, dan bermain di halaman rumah yang sama. Namun seiring bertambahnya usia, jurang di antara mereka semakin lebar. Jurang itu bukan karena jarak, melainkan karena sifat yang sulit dijembatani.

Rahayu, sang kakak, selalu ingin menjadi pusat perhatian. Ia pandai merangkai kata, lihai menampilkan diri sebagai sosok yang paling tersakiti. Via, sang adik, tumbuh dengan sifat lebih pendiam dan realistis. Ia tahu bagaimana kakaknya sering memutarbalikkan fakta, namun ia tak pernah punya keberanian untuk melawan secara langsung.

“Bu, tahu nggak, Rahayu itu nggak pernah dianggap sama Via,” begitu salah satu keluhan yang sering diucapkan Via kepada ibunya. Namun entah bagaimana, setiap kata itu berbalik arah. Justru Rahayu-lah yang rajin menyampaikan keburukan Via kepada orang tua mereka.

Di mata Rahayu, dirinya selalu korban. Ia menuduh Via tidak menghargai, tidak menyayangi, bahkan sering merendahkan. Padahal, semua itu hanyalah bayangan yang ia ciptakan sendiri. Rahayu akan menangis di depan keluarga besar, menceritakan “kesedihan”-nya sebagai seorang kakak yang disakiti adiknya.

“Kalau aku nggak cerita, siapa yang peduli sama aku? Via itu selalu bikin aku terlihat buruk,” ucapnya pada salah satu temannya, dengan wajah memelas.

Teman-teman Rahayu pun percaya. Mereka melihat Rahayu sebagai kakak yang penyabar, yang selalu berusaha, tetapi dikhianati oleh adik sendiri. Lambat laun, berita itu menyebar ke keluarga besar. Nama Via tergores. Banyak yang memandangnya dengan tatapan curiga, seakan ia memang benar-benar adik yang durhaka.

Di sisi lain, Via hanya bisa diam. Setiap kali ia mencoba menjelaskan, suaranya kalah oleh drama air mata kakaknya. Ia mulai merasa asing di tengah keluarga sendiri. Orang tuanya pun, meski tidak selalu percaya penuh pada Rahayu, kadang terbawa arus narasi yang dibangun oleh sang kakak.

“Kenapa kamu begitu sama kakakmu, Via? Dia itu cuma ingin diperhatikan,” kata ibunya suatu malam.

Via terdiam. Ia ingin berteriak, ingin mengungkap semua kebohongan, tapi ia tahu, melawan Rahayu hanya akan membuatnya kembali diposisikan sebagai “penjahat.”

Hari-hari berjalan dengan hati yang berat. Hubungan kakak-adik itu semakin renggang. Setiap kali bertemu, selalu ada rasa curiga dan ketegangan. Bukan karena benci, melainkan karena luka yang terus ditorehkan.

Via mulai sadar bahwa ia tidak bisa mengubah Rahayu. Ia tak bisa membuat kakaknya berhenti memainkan peran sebagai korban. Yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga jarak, melindungi dirinya dari manipulasi yang menguras energi.

Namun di dalam hatinya, Via tetap menyimpan harapan kecil bahwa suatu hari, kebenaran akan terlihat jelas. Bahwa orang-orang akan memahami siapa yang sesungguhnya bermain drama, dan siapa yang benar-benar terluka.

Sejak kecil, Rahayu dan Via tampak seperti kakak-adik yang normal di mata orang lain. Mereka berlarian di halaman rumah, makan bersama di meja kayu panjang, dan tidur di kamar yang dipisahkan lemari tua. Namun, di balik semua itu, ada pola yang berbeda.

Rahayu, sebagai anak sulung, terbiasa mendapatkan perhatian lebih. Ia selalu merasa dirinya pantas diutamakan. Jika Via mendapatkan mainan baru, Rahayu akan menangis keras hingga akhirnya orang tua menenangkannya dengan hadiah lain.

“Aku kan kakaknya, kenapa adikku duluan yang dibeliin?” begitu kalimat yang sering keluar dari bibirnya.

Via kecil hanya bisa menunduk. Ia belajar diam, menerima bahwa kakaknya selalu harus jadi pusat perhatian.

Ketika remaja, sifat itu semakin menjadi. Rahayu mulai membandingkan dirinya dengan Via dalam segala hal. Jika Via mendapat nilai bagus, Rahayu merasa diremehkan. Jika Via punya teman dekat, Rahayu akan menyebar cerita buruk agar Via terlihat tidak sebaik itu.

“Via itu suka nggak sopan sama aku,” katanya suatu kali pada ibunya.

“Benarkah? Tapi Via kelihatannya biasa aja, Yu,” sang ibu mencoba menenangkan.

“Biasa aja di depan, Bu. Tapi kalau di belakang, dia beda.”

Kalimat itu menempel di kepala ibunya. Sedikit demi sedikit, orang tua mulai percaya bahwa ada sesuatu yang salah pada Via. Padahal, Via hanya mencoba menjalani hidup tanpa ingin terlibat drama.

Rahayu tumbuh menjadi pribadi yang piawai dalam memainkan peran korban. Setiap masalah yang terjadi, selalu ia balikkan menjadi kesalahan orang lain terutama Via.

Jika Rahayu marah, ia akan segera menangis di depan orang tua atau temannya. “Aku tuh capek jadi kakak yang selalu disalahin. Padahal aku cuma sayang sama Via,” katanya dengan suara bergetar.

Teman-temannya percaya. Keluarga besar pun ikut terpengaruh. Narasi Rahayu begitu kuat karena dibungkus air mata. Via, yang lebih pendiam, tidak pernah bisa bersuara lebih lantang. Setiap kali ia mencoba membela diri, ia justru terlihat seperti adik yang keras kepala.

“Kenapa sih kamu nggak bisa sabar sama kakakmu?” kata ayahnya suatu malam.

Via hanya terdiam, menahan tangis yang mengendap di dada.

Lambat laun, hubungan kakak-adik itu semakin renggang. Via memilih menjaga jarak. Ia mulai jarang berbicara dengan Rahayu, bahkan ketika mereka berada dalam satu rumah. Setiap tatapan terasa seperti dinding tebal yang memisahkan.

Orang tua masih berharap keduanya bisa akur. “Kalian itu darah daging, jangan sampai putus hubungan,” kata ibunya berkali-kali. Tapi bagaimana mungkin? Setiap kali Rahayu berbicara, yang keluar hanya keluhan dan tuduhan.

Via mulai sadar, ia harus melindungi dirinya sendiri. Ia tidak bisa lagi membiarkan Rahayu menguras energi dan membuatnya merasa bersalah tanpa alasan.

Meski sakit hati, Via masih menyimpan seberkas harapan. Dalam hati kecilnya, ia ingin kakaknya berubah. Ia ingin suatu hari, Rahayu mampu melihat dirinya bukan sebagai lawan, melainkan saudara.

Namun, Via juga sadar, perubahan itu mungkin tidak akan pernah datang. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdamai dengan kenyataan, menjaga jarak sehat, dan tetap menghormati orang tuanya.

Suatu malam, Via menulis dalam buku catatannya:

“Aku tidak bisa memilih kakak seperti apa yang diberikan Tuhan. Tapi aku bisa memilih bagaimana aku menjaga diriku sendiri. Jika kakakku ingin memainkan drama, biarlah. Aku hanya ingin tetap waras, tetap utuh, dan tidak kehilangan diriku sendiri.”

Hubungan Rahayu dan Via semakin lama semakin dingin. Setiap kali keluarga besar berkumpul, Rahayu selalu pandai memainkan perannya. Dengan wajah penuh kesedihan, ia menceritakan bagaimana Via kerap “menyakiti” perasaannya.

“Bayangkan, adikku sendiri nggak pernah hormat sama aku. Apa salahku jadi kakaknya?” keluh Rahayu di depan sepupunya.

Orang-orang yang mendengarnya menatap Via dengan tatapan berbeda. Ada yang kasihan pada Rahayu, ada pula yang diam-diam mulai menjauh dari Via. Padahal, tak seorang pun tahu cerita yang sebenarnya.

Via hanya bisa menahan sakit hati. Setiap tuduhan yang dilemparkan Rahayu bagai pisau yang menggores tanpa henti. Ia merasa terkucil, bahkan dalam keluarganya sendiri.

Yang lebih menyakitkan, orang tua mereka seringkali terbawa arus drama Rahayu. “Coba kamu jangan keras kepala, Via. Kakakmu itu cuma ingin kamu perhatian sedikit. Jangan selalu bikin dia merasa sendirian,” ucap ibunya.

Via ingin menjawab, ingin berkata bahwa semua itu hanya manipulasi. Namun ia tahu, jika ia melawan, ia akan kembali disalahkan. Pada akhirnya, ia hanya terdiam, memendam luka sendirian.

Hari-hari berlalu dengan ketegangan yang tak pernah surut. Via belajar menjaga jarak. Ia lebih memilih diam daripada masuk dalam lingkaran drama yang sama. Namun, jarak itu membuat hubungannya dengan orang tua pun merenggang. Mereka mulai melihat Via sebagai anak yang dingin, padahal ia hanya sedang melindungi dirinya.

Kadang, di malam sunyi, Via menangis sendiri. Ia merindukan hubungan kakak-adik yang hangat, seperti yang sering ia lihat di keluarga lain. Namun, ia sadar, Rahayu tidak akan pernah berubah jika terus terjebak dalam pola lama: merasa korban, padahal justru menyakiti orang lain.

Meski demikian, Via tidak menutup hatinya sepenuhnya. Ada sedikit ruang kecil dalam dirinya yang tetap berharap entah suatu saat, mungkin setelah waktu menguji, Rahayu akan berhenti bermain peran dan melihat kebenaran apa adanya.

Namun hingga saat itu tiba, Via memilih untuk tetap melangkah. Ia belajar bahwa mencintai keluarga bukan berarti harus terus membiarkan diri disakiti. Ada kalanya, menjaga jarak adalah bentuk cinta yang paling bijaksana.

Waktu berjalan. Rahayu menikah lebih dulu. Pernikahannya sempat menjadi kebanggaan keluarga, namun masalah dalam rumah tangganya pun tak lepas dari drama yang ia ciptakan. Setiap kali ia bertengkar dengan suaminya, ia kembali memainkan peran sebagai korban. Dan siapa yang kembali ia salahkan? Via.

“Kalau bukan karena Via bikin aku stres, rumah tanggaku nggak akan begini,” kata Rahayu di depan ibunya.

Via hanya bisa menghela napas panjang. Ia bahkan tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga Rahayu, tapi entah bagaimana namanya selalu terseret.

Ketika Via menikah, situasi semakin rumit. Rahayu mulai menjelek-jelekkan Via di depan keluarga suaminya. “Adikku itu keras kepala, suaminya harus sabar banget ngadepin dia,” begitu cerita yang ia sampaikan pada salah satu tantenya.

Tentu saja kabar itu sampai juga ke telinga Via. Rasanya pedih sekali mengetahui kakaknya sendiri yang seharusnya mendukung, malah berusaha merusak citra dirinya di hadapan orang lain.

Hubungan mereka makin dingin. Jika bertemu di acara keluarga, mereka hanya saling menyapa sekilas, tanpa benar-benar berbicara. Ada dinding tak kasat mata yang semakin tebal.

Namun, Rahayu tidak berhenti. Ia masih pandai menyebar cerita dengan gaya playing victim. Jika ia sakit, ia akan berkata, “Aku sakit karena dipikirin terus sama Via.” Jika ia gagal, ia menyalahkan, “Kalau saja aku nggak ditekan sama adikku, aku pasti bisa lebih sukses.”

Orang tua yang sudah mulai menua pun semakin bingung menghadapi dua anaknya. Kadang, mereka mencoba menasihati Via.

“Via, tolonglah, jangan selalu bikin kakakmu merasa disakiti.”

Via hanya menunduk, menahan air mata. Dalam hatinya, ia ingin sekali berkata, “Aku tidak pernah melakukan itu, Bu.” Tapi lagi-lagi, ia tahu, percuma.

Hingga suatu hari, titik balik datang. Rahayu mengalami masalah besar dalam rumah tangganya. Suaminya pergi, meninggalkan banyak hutang. Rahayu kembali pada keluarga, menangis sejadi-jadinya. Seperti biasa, ia memainkan peran sebagai korban, tapi kali ini orang-orang mulai melihat celah.

Sepupu-sepupu yang dulu percaya mulai menyadari ada yang janggal. Beberapa teman pun mulai melihat bahwa cerita Rahayu tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Perlahan, topeng itu retak.

Via yang selama ini diam, tetap menolong. Meski sakit hati, ia tetap membantu Rahayu sebisa mungkin, bukan karena dendamnya hilang, melainkan karena ia memilih untuk tetap manusiawi.

Rahayu tidak pernah benar-benar mengakui kesalahannya. Namun di dalam hati kecilnya, ia tahu, meski selama ini ia selalu menjelekkan adiknya, justru Via-lah yang paling tulus.

Sementara Via, ia sudah berdamai. Ia tak lagi berharap kakaknya berubah sepenuhnya. Ia hanya ingin menjalani hidup dengan tenang, menjaga keluarganya sendiri, dan membiarkan jarak tetap ada jika itu yang membuat hatinya selamat.

Waktu terus berjalan, dan jarak antara Rahayu dan Via tidak pernah benar-benar hilang. Mereka tetap saudara, tetap terikat darah, namun hubungan mereka tidak lagi sama seperti dulu. Ada bekas luka yang terlalu dalam untuk bisa disembuhkan hanya dengan maaf yang setengah hati.

Rahayu masih sering terjebak dalam polanya merasa korban, menyalahkan keadaan, bahkan kadang masih menyudutkan Via. Namun kali ini, Via tidak lagi terbawa arus. Ia sudah belajar menegakkan batas.

“Aku tetap sayang sama kakakku, tapi aku juga harus sayang pada diriku sendiri,” kata Via suatu malam pada suaminya.

Kalimat itu menjadi pegangan baginya. Ia tidak membenci Rahayu, tapi ia juga tidak lagi membiarkan dirinya hancur oleh manipulasi. Ia menolong sejauh mampu, namun tahu kapan harus berhenti.

Orang tua mereka akhirnya mulai mengerti. Mereka melihat bagaimana Via tetap tenang meski berkali-kali difitnah. Mereka mulai sadar bahwa anak yang terlihat paling diam, justru menyimpan luka paling besar.

Di lubuk hati, Via tetap berharap kakaknya bisa berubah, bisa melihat kebenaran. Tapi ia tidak lagi menaruh hidupnya pada harapan itu. Ia memilih menjalani hari dengan tenang, fokus pada keluarganya sendiri, dan membiarkan waktu yang menunjukkan siapa sebenarnya yang tulus dan siapa yang hanya bermain peran.

Bagi Via, pelajaran terbesar dari semua drama ini adalah: darah memang tak bisa diputus, tapi tidak semua hubungan keluarga harus selalu didekatkan. Ada kalanya, jarak justru menjadi bentuk cinta agar tidak saling melukai lagi.

Dan di sanalah Via menemukan kedamaian. Bukan karena kakaknya berubah, tapi karena ia sendiri yang memilih untuk tetap utuh, tetap waras, dan tidak kehilangan dirinya dalam drama yang tak ada ujungnya.

Hari itu, keluarga besar kembali berkumpul di rumah orang tua. Rahayu hadir dengan wajah letih, sementara Via datang bersama suami dan anak-anaknya. Suasana sedikit kaku, seperti biasa.

Namun ada yang berbeda. Orang tua mereka, yang kini semakin tua dan bijak, mengumpulkan keduanya.

“Kalian ini darah daging. Bapak sama Ibu sudah tua, tak ingin lihat kalian terus berjarak,” ucap sang ayah dengan suara bergetar.

Rahayu menunduk. Ia ingin menangis, ingin kembali memainkan peran korban, tetapi kali ini ia tidak bisa lagi. Semua orang sudah terlalu sering melihat air matanya. Sementara Via hanya diam, menatap kosong, tapi wajahnya tenang.

“Aku tidak benci kakakku,” kata Via pelan, “tapi aku juga tidak bisa pura-pura tidak terluka. Aku cuma ingin hidup tenang, tanpa drama.”

Kalimat itu membuat ruangan terdiam. Untuk pertama kalinya, semua orang mendengar suara hati Via dengan jelas. Ia tidak membentak, tidak marah, hanya jujur pada dirinya sendiri.

Rahayu menggigit bibirnya. Ada rasa bersalah yang menyesap, meski ia tidak berani mengakuinya. Ia tahu, selama ini dialah yang membuat jurang itu ada. Tapi egonya terlalu tinggi untuk meminta maaf sepenuhnya.

Waktu berlalu. Hubungan mereka tidak kembali seperti semula. Mereka tetap saling sapa, tetap hadir dalam momen keluarga, tapi batas itu tetap ada.

Bagi Via, itu sudah cukup. Ia tidak lagi menunggu pengakuan, tidak lagi memaksa perubahan. Ia hanya menjaga dirinya sendiri, mencintai keluarganya, dan membiarkan kakaknya berjalan dengan caranya sendiri.

Dan di situlah akhir dari drama panjang itu bukan rekonsiliasi manis yang sempurna, melainkan kedewasaan menerima kenyataan: bahwa tidak semua hubungan saudara bisa hangat, tapi tetap bisa dijaga tanpa harus saling menghancurkan.

Via melangkah pergi dari rumah orang tuanya sore itu dengan hati yang lebih ringan. Ia berbisik dalam hati:

“Aku sudah melepaskan. Luka ini bukan lagi beban, tapi pengingat untuk tetap sayang pada diriku sendiri.”

Tahun-tahun berlalu. Rahayu tetap dengan hidupnya, kadang masih terjebak dalam peran lama: merasa paling tersakiti, menyalahkan keadaan, bahkan sekali-kali menyindir Via. Namun seiring waktu, semakin sedikit orang yang mempercayainya. Mereka mulai melihat pola yang sama berulang.

Via, di sisi lain, tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Ia sibuk membangun rumah tangganya, mendampingi anak-anaknya, dan menjaga ketenangan batinnya. Ia belajar bahwa luka masa lalu bisa menjadi guru, bukan hanya beban.

Suatu sore, ketika ibunya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit, Via dan Rahayu dipertemukan kembali. Duduk di kursi tunggu, mereka tak banyak bicara. Hanya ada keheningan panjang, lalu Rahayu berbisik pelan:

“Terima kasih masih mau datang… meski aku sering nyakitin kamu.”

Via menoleh. Itu bukan permintaan maaf yang utuh, tapi cukup untuknya. Ia hanya tersenyum kecil dan menjawab,

“Aku nggak pernah berhenti jadi adikmu.”

Air mata menetes di sudut mata Rahayu. Ia tidak berkata apa-apa lagi.

Bagi Via, kata-kata itu sudah menjadi penutup yang ia butuhkan. Tidak harus ada pelukan dramatis, tidak harus ada janji manis untuk berubah. Cukup pengakuan kecil bahwa luka itu nyata.

Sejak hari itu, hubungan mereka masih tetap berjarak, tapi tidak lagi penuh kebencian. Mereka belajar hidup berdampingan tanpa saling melukai, dengan batas yang jelas.

Via akhirnya mengerti: kedewasaan bukan berarti memaksa orang lain berubah, melainkan menerima bahwa ada hubungan yang hanya bisa dijaga dengan jarak.

Dan dalam jarak itulah, ia menemukan damai yang selama ini ia cari.

Matahari sore merayap perlahan, sinarnya menembus jendela rumah tua orang tua mereka. Via berdiri di teras, menatap langit yang mulai jingga. Di sampingnya, Rahayu duduk diam. Tidak ada lagi kata-kata menyakitkan, tidak ada lagi tuduhan. Hanya keheningan yang terasa berat, namun juga damai.

“Yu…” Via memanggil lembut, “kita mungkin nggak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Tapi aku tetap adikmu, dan kamu tetap kakakku. Itu nggak akan berubah.”

Rahayu menunduk, jemarinya saling meremas. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah. Tidak berdrama. Tidak menangis. Hanya diam, dengan mata berkaca-kaca.

Via menarik napas panjang.

“Aku sudah berdamai dengan semuanya. Aku maafin kamu, meski mungkin kamu belum bisa minta maaf. Aku maafin, bukan untuk kamu… tapi untuk diriku sendiri. Supaya aku bisa hidup tenang.”

Rahayu menutup matanya, menahan air mata yang jatuh. Kalimat itu menembus hatinya lebih dalam daripada semua nasihat orang lain.

Saat itu, keduanya tidak berpelukan, tidak berjanji untuk berubah, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sebuah pemahaman tak terucap: bahwa cinta saudara tidak harus selalu dekat, tapi juga tidak harus hilang.

Mereka berjalan pulang masing-masing dengan langkah yang berbeda, namun beban di dada Via terasa jauh lebih ringan. Ia tahu, ia sudah sampai pada akhir perjalanannya: melepaskan luka, menerima kenyataan, dan memilih hidup dengan damai.

Langit senja menjadi saksi, bahwa tak semua hubungan berakhir dengan rekonsiliasi manis ada yang berakhir dengan jarak, dengan luka yang membekas, tapi juga dengan keikhlasan.

Dan dalam keikhlasan itu, Via akhirnya menemukan kebebasan.


TAMAT 

Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa