Dari Terbodohi Menjadi Tegar

Dari Terbodohi Menjadi Tegar


Astrid tumbuh dalam keluarga sederhana di sebuah kota kecil di Jawa. Ayahnya meninggal saat ia masih berusia belasan tahun, meninggalkan ibu yang sakit-sakitan dan seorang kakak laki-laki bernama Andin. Dari kecil Astrid sudah terbiasa mandiri. Ia tidak punya banyak kemewahan seperti teman-temannya, tapi justru di sanalah keteguhan hatinya ditempa.

Sejak SMA, Astrid sudah mulai berjualan kecil-kecilan. Ia membeli pakaian dari grosir di kota, lalu menjualnya lagi ke teman-temannya dengan keuntungan tipis. Meski kadang ditertawakan karena selalu membawa kantong besar berisi pakaian, Astrid tidak peduli. Ia selalu percaya bahwa sedikit demi sedikit, usahanya akan membuahkan hasil.

Ketika usianya menginjak dua puluh dua tahun, Astrid mulai membuka kios kecil di pasar. Ia meminjam uang dari koperasi, lalu membeli pakaian wanita yang sedang tren. Hari-hari pertamanya berjualan penuh perjuangan. Ia harus datang subuh untuk mendapatkan tempat terbaik di pasar, menata pakaian agar terlihat menarik, dan menghadapi pembeli yang sering menawar dengan harga tak masuk akal.

Tapi Astrid tidak pernah menyerah. Semangatnya seakan tidak pernah padam. Perlahan, kios kecil itu mulai ramai. Pelanggan tetap berdatangan, dan Astrid selalu melayani mereka dengan senyum ramah. “Mbak Astrid ini selalu enak diajak transaksi, makanya saya suka beli di sini,” kata salah satu pelanggan suatu hari.

Keuletan Astrid membuat usahanya berkembang. Dari kios kecil, ia bisa menyewa sebuah ruko sederhana di pinggir jalan raya. Ia mulai menjual tidak hanya pakaian, tapi juga aksesoris dan tas. Bisnisnya semakin besar. Bahkan, beberapa orang dari luar kota mulai memesan dalam jumlah banyak untuk dijual kembali. Astrid menjadi pemasok kecil-kecilan untuk beberapa reseller.

Hasil kerja keras itu membuat Astrid memiliki tabungan yang cukup besar. Dalam lima tahun, ia berhasil mengumpulkan aset hingga miliaran rupiah. Rumah sederhana yang ia tinggali bersama ibunya direnovasi menjadi lebih layak. Ibunya bisa berobat rutin, kebutuhan sehari-hari tercukupi, dan Astrid bahkan bisa membantu beberapa tetangganya yang kesulitan.

Namun, di balik semua itu, ada satu kelemahan besar dalam diri Astrid: ia terlalu percaya pada kakaknya, Andin.

Andin adalah pria berusia tiga puluh lima tahun. Ia sebenarnya cerdas, namun malas bekerja keras. Sejak muda, ia terbiasa mencari jalan pintas. Beberapa kali ia mencoba bisnis, tapi selalu gagal karena tidak fokus. Meski begitu, Andin selalu pandai berbicara, selalu punya cara untuk meyakinkan orang lain, terutama Astrid.

“Dek, kamu ini kan sudah sukses. Kakak masih berjuang. Kalau kamu bantu Kakak sedikit, Kakak yakin bisa mengembangkan bisnis,” begitu kata Andin suatu hari.

Astrid, dengan hati yang lembut, langsung luluh. “Bisnis apa, Kak?” tanyanya polos.

“Ini ada proyek properti. Teman Kakak bilang butuh investor. Dalam enam bulan uangmu bisa balik dua kali lipat,” jelas Andin penuh percaya diri.

Astrid sebenarnya ragu, tapi ia tidak tega menolak. Ia percaya, sebagai kakak, Andin tidak mungkin menipunya. Dengan keyakinan itu, ia menyerahkan ratusan juta rupiah.

Waktu berlalu, tidak ada kabar tentang keuntungan yang dijanjikan. Astrid bertanya, tapi Andin selalu punya alasan. “Masih proses, Dek. Sabar saja, sebentar lagi cair.”

Begitu seterusnya. Setiap kali Astrid menagih kejelasan, Andin datang lagi dengan cerita baru. “Ada bisnis lain, Dek. Kalau kita masuk sekarang, hasilnya besar.” Astrid kembali percaya. Ia menganggap, membantu kakak sendiri bukanlah hal yang salah.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi adalah Andin tidak pernah benar-benar punya bisnis. Uang yang diberikan Astrid hanya habis untuk kebutuhan pribadinya: foya-foya, membeli barang mewah, dan memenuhi gaya hidupnya yang tinggi.

Astrid tidak menyadari bahwa ia sedang dimanfaatkan. Dari ratusan juta, jumlahnya bertambah menjadi miliaran. Tabungan yang ia kumpulkan bertahun-tahun, pelan-pelan menghilang.

Hingga suatu hari, Astrid mulai merasa curiga. Ia mencoba mencari tahu tentang proyek yang disebut Andin. Hasilnya mengejutkan: semua itu hanyalah kebohongan. Tidak ada bisnis, tidak ada proyek, semua hanya akal-akalan Andin.

Astrid merasa jantungnya berhenti berdetak saat mengetahui kebenaran itu. Ia langsung mendatangi kakaknya, menuntut penjelasan.

“Kak, selama ini kamu bohong sama aku?” suara Astrid bergetar, matanya penuh air mata.

Andin menghela napas panjang, lalu menjawab dengan enteng, “Dek, uang itu sudah habis. Jangan salahkan Kakak. Namanya juga usaha, kadang untung, kadang rugi.”

Astrid menatap kakaknya tak percaya. “Tapi ini uangku, Kak! Uang hasil kerja kerasku bertahun-tahun. Kenapa Kakak tega melakukan ini?”

“Sudahlah, Dek. Uang bisa dicari lagi. Jangan terlalu dibesar-besarkan,” jawab Andin, bahkan tanpa rasa bersalah.

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk hati Astrid. Ia merasa hancur, bukan hanya karena kehilangan uang, tapi karena dikhianati oleh orang yang paling ia percayai.

Malam itu, Astrid tidak bisa tidur. Ia menangis sepanjang malam, menyesali kebodohannya. “Bodoh… aku terlalu bodoh,” gumamnya berulang-ulang. Ia merasa dirinya tidak berharga lagi.

Hari-hari berikutnya, Astrid hidup dalam kegelapan. Ia jatuh dalam depresi. Setiap kali melihat toko yang dulu ramai, ia merasa hatinya makin remuk. Usaha yang ia bangun kini nyaris runtuh. Beberapa pelanggan kabur karena stok barang berkurang. Reseller yang dulu setia kini mencari pemasok lain.

Astrid merasa hidupnya sudah berakhir. Ia sering menyendiri di kamar, menolak makan, bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. “Untuk apa aku hidup kalau semua sudah hilang?” katanya dalam hati.

Namun, setiap kali ia melihat ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan, Astrid menahan diri. Ia sadar, ia tidak boleh menyerah. Jika ia pergi, siapa yang akan menjaga ibunya? Kesadaran itu menjadi cahaya kecil yang menyelamatkannya dari jurang kehancuran.

Hari-hari setelah terungkapnya kebohongan Andin adalah masa yang paling berat bagi Astrid. Ia bangun setiap pagi dengan hati berat, duduk di ranjang sambil menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Udara pagi yang biasanya membuatnya bersemangat kini hanya terasa dingin dan sunyi.

Ibunya beberapa kali mengetuk pintu kamar. “Astrid, makan dulu, Nak. Jangan terus-terusan menyendiri,” suara ibunya yang parau terdengar memohon.

Astrid hanya menjawab lirih, “Iya, Bu… sebentar lagi.” Tapi ia tidak benar-benar keluar.

Dalam kesepian itu, Astrid berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa bodoh karena terlalu percaya pada kakaknya. “Bagaimana bisa aku seceroboh ini? Uang miliaran… hilang begitu saja. Semua karena aku.” Air matanya terus jatuh, membasahi bantal yang sudah tak asing dengan rasa asin tangisannya.

Namun, ada satu hal yang terus menahan Astrid untuk tidak tenggelam lebih dalam: wajah ibunya. Setiap kali ia melihat ibunya duduk di kursi roda, dengan tubuh renta yang masih membutuhkan perawatan, hatinya menjerit. “Kalau aku menyerah, siapa yang akan menjaga Ibu? Siapa yang akan menemaninya?” Pertanyaan itu akhirnya menjadi cambuk bagi dirinya.

Suatu sore, Astrid duduk di teras rumah. Angin berhembus lembut, membawa bau tanah basah setelah hujan. Ia menatap jauh, lalu berkata pada dirinya sendiri, “Aku harus bangkit. Sekalipun sulit, aku tidak boleh berhenti di sini.”

Keputusan itu mengubah arah hidupnya. Astrid memutuskan untuk mencoba kembali berdagang, meski hanya dengan modal kecil. Namun kali ini ia sadar, ia tidak bisa lagi mengandalkan toko besar yang dulu ia miliki. Ia harus mencari jalan baru.

Ia mulai menjual sisa-sisa stok pakaian secara online. Dengan ponsel sederhana, ia memotret pakaian satu per satu. Ia belajar mengedit foto agar terlihat menarik, menuliskan deskripsi produk dengan rapi, dan memposting di media sosial.

Awalnya sepi. Hanya ada satu-dua yang bertanya harga. Bahkan seringkali tidak jadi membeli. Namun Astrid tidak menyerah. Ia rajin mempromosikan barang dagangannya, mengikuti grup jual beli, bahkan mengirim pesan pribadi ke beberapa kenalan.

Lambat laun, hasilnya mulai terlihat. Order kecil berdatangan. Ada yang membeli satu baju, ada yang memesan dua. Setiap kali ada notifikasi pembayaran masuk, Astrid merasa hatinya berbunga. “Alhamdulillah, ada yang beli,” ucapnya dengan senyum kecil.

Walaupun penghasilan dari jualan online masih jauh dari cukup, Astrid merasa bangga. Ia berhasil menghasilkan uang sendiri lagi, meski dengan cara yang berbeda. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa teknologi bisa menjadi jalan baru untuk bertahan.

Namun kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya berobat ibunya membuat Astrid harus mencari tambahan penghasilan. Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, ia akhirnya memberanikan diri melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar.

Ia tidak peduli meski harus memulai dari posisi paling bawah. Yang penting, ia bisa mendapatkan gaji tetap. Dengan hati berdebar, Astrid mengikuti wawancara. Beberapa hari kemudian, ia mendapat kabar diterima sebagai office girl.

Hari pertamanya bekerja menjadi momen yang penuh campuran rasa. Ia mengenakan seragam sederhana berwarna biru muda, mengikat rambutnya rapi, lalu berangkat lebih pagi. Di kantor, ia diperkenalkan sebagai karyawan baru yang bertugas menjaga kebersihan dan melayani kebutuhan karyawan lain.

Meski pekerjaan itu sederhana, Astrid menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Ia membersihkan ruangan dengan telaten, memastikan meja rapat selalu siap, dan menyajikan minuman untuk tamu dengan senyum.

Beberapa karyawan sempat meremehkannya. “Kasihan ya, dulu katanya punya usaha besar, sekarang jadi office girl,” bisik seseorang. Astrid mendengarnya, tapi ia memilih diam. Ia tahu, harga dirinya bukan ditentukan oleh apa kata orang, tapi oleh kerja kerasnya.

Hari berganti, minggu berlalu. Astrid mulai terbiasa dengan rutinitas baru. Ia bahkan menjadi sosok yang disukai banyak karyawan karena keramahannya. “Mbak Astrid, terima kasih ya sudah selalu siapin kopi,” kata salah satu staf suatu hari. Astrid hanya tersenyum, “Sama-sama, Mas. Itu sudah tugas saya.”

Tanpa disadari, sosok sederhana itu ternyata menarik perhatian seseorang yang tidak ia duga: Aditya, sang CEO perusahaan.

Aditya adalah pria berusia tiga puluh delapan tahun. Ia sukses, tampan, dan disegani. Hidupnya bergelimang kemewahan, tapi di balik itu semua, ia adalah pria yang kesepian. Banyak orang mendekatinya, tapi kebanyakan hanya karena uang dan posisinya. Ia jarang menemukan ketulusan.

Dari balik ruangannya yang luas, Aditya beberapa kali memperhatikan Astrid. Ia melihat bagaimana Astrid bekerja tanpa mengeluh, selalu tersenyum meski pekerjaannya melelahkan. Ada ketulusan dalam sikapnya yang membuat Aditya merasa penasaran.

Suatu hari, Aditya memanggil Astrid ke ruangannya. Astrid yang gugup mengetuk pintu, lalu masuk sambil membawa segelas teh hangat. “Silakan, Pak,” katanya sopan.

Aditya tersenyum tipis. “Terima kasih. Duduklah sebentar.”

Astrid terkejut. “Saya, Pak? Duduk di sini?”

“Ya, sebentar saja. Saya hanya ingin berbicara,” jawab Aditya tenang.

Astrid duduk dengan hati berdebar. Ia merasa aneh, seorang office girl diajak bicara oleh CEO. Aditya menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Saya perhatikan kamu selalu bekerja dengan semangat. Padahal pekerjaanmu tidak mudah. Apa yang membuatmu bisa kuat seperti itu?”

Pertanyaan itu membuat Astrid terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca, lalu ia menjawab dengan suara bergetar, “Karena saya pernah kehilangan segalanya, Pak. Kalau saya menyerah sekarang, saya tidak akan punya apa-apa lagi.”

Aditya tertegun. Ia tidak menyangka jawaban sejujur itu keluar dari mulut seorang office girl. “Kehilangan segalanya?” tanyanya pelan.

Astrid mengangguk. “Saya dulu punya usaha sendiri. Tapi saya terlalu percaya pada orang yang seharusnya bisa saya andalkan. Uang saya habis, usaha saya hancur. Saya sempat hampir gila, Pak… tapi saya sadar, hidup harus terus berjalan. Karena itu saya bekerja di sini, sekalipun hanya sebagai office girl.”

Aditya terdiam. Ia bisa merasakan luka di balik kata-kata Astrid, tapi juga merasakan kekuatan yang lahir dari luka itu. Ia kagum, karena tidak banyak orang yang bisa bangkit setelah jatuh sedalam itu.

Sejak hari itu, Aditya semakin sering memperhatikan Astrid. Sesekali ia menyapa, menanyakan kabar, atau sekadar memberi senyum. Bagi Astrid, perhatian itu terasa aneh sekaligus membingungkan. Ia tidak pernah membayangkan seorang CEO bisa memperlakukannya dengan begitu hangat.

Namun di dalam hatinya, Astrid tetap berhati-hati. Ia tidak ingin lagi mudah percaya seperti dulu. Ia takut hatinya kembali hancur. Meski begitu, setiap kali berbicara dengan Aditya, ada rasa tenang yang sulit ia jelaskan.

Hari-hari di kantor mulai berubah bagi Astrid. Sejak pertemuan pertama dengan Aditya di ruangannya, ia tidak bisa memungkiri bahwa ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali berjalan melewati ruang CEO, hatinya berdebar tanpa alasan. Ia berusaha menganggap itu hanya rasa hormat kepada atasan, tapi jauh di dalam, ada getaran yang tidak bisa ia abaikan.

Aditya pun demikian. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa dikelilingi wanita cantik dan ambisius yang mendekat hanya demi status. Namun Astrid berbeda. Ia sederhana, tulus, dan tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada harta atau jabatan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat Aditya semakin ingin mengenalnya.

Suatu sore, ketika sebagian besar karyawan sudah pulang, Astrid masih sibuk membersihkan ruang rapat. Aditya kebetulan baru saja keluar dari ruangannya. Ia melihat Astrid sedang mengangkat kursi satu per satu untuk menyapu lantai.

“Bukankah sudah waktunya pulang?” tanya Aditya sambil mendekat.

Astrid terkejut, lalu segera menunduk. “Oh, Pak… iya, sebentar lagi. Saya hanya ingin memastikan ruang rapat ini bersih untuk besok pagi.”

Aditya tersenyum tipis. “Kamu selalu telaten. Kalau boleh tahu, setelah ini biasanya kamu langsung pulang?”

Astrid ragu sejenak, lalu mengangguk. “Iya, Pak. Saya pulang ke rumah, menemani ibu saya.”

Ada kehangatan dalam nada suaranya saat menyebut ibunya. Aditya merasakannya. “Kalau begitu, biar saya antar. Kebetulan saya juga sudah mau pulang.”

Astrid terbelalak. “Tidak usah, Pak. Saya bisa naik angkot.”

“Tapi sudah malam. Tidak baik bagi seorang wanita pulang sendirian. Anggap saja saya sekadar memastikan karyawan saya sampai rumah dengan aman.”

Astrid masih merasa canggung, tapi akhirnya ia setuju. Dalam perjalanan, mobil mewah Aditya melaju pelan melewati jalanan kota yang mulai sepi. Astrid duduk kaku, tangannya meremas tasnya erat-erat.

Aditya melirik sekilas. “Kamu terlihat tegang sekali. Apa saya menakutkan?” tanyanya sambil tersenyum.

Astrid buru-buru menggeleng. “Bukan begitu, Pak. Hanya saja… saya tidak terbiasa.”

“Dengan apa?”

“Dengan… berada di dekat orang seperti Bapak,” jawabnya jujur.

Aditya tertawa kecil. “Orang seperti saya itu seperti apa?”

“Seorang CEO besar, sukses, terhormat… sementara saya hanya seorang office girl.”

Aditya terdiam sejenak, lalu berkata dengan serius, “Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri, Astrid. Posisi pekerjaan tidak menentukan nilai seseorang. Yang menentukan adalah hati dan perjuangannya.”

Kalimat itu menusuk hati Astrid. Untuk pertama kalinya sejak jatuh dalam keterpurukan, ia merasa ada orang yang benar-benar melihat dirinya, bukan sekadar statusnya.

Perjalanan itu menjadi awal dari hubungan mereka yang semakin dekat. Tidak jarang Aditya mengajak Astrid berbicara ringan saat jam istirahat, menanyakan kabar ibunya, bahkan sesekali menitipkan bingkisan kecil berupa vitamin atau makanan untuk sang ibu.

Awalnya Astrid menolak. “Pak, saya tidak enak menerima ini…”

Namun Aditya hanya berkata lembut, “Anggap saja ini tanda terima kasih saya karena kamu sudah bekerja keras. Tidak ada maksud lain.”

Lambat laun, hati Astrid mulai luluh. Ia menyadari bahwa Aditya bukan pria yang hanya peduli pada tampilan luar. Ia benar-benar tulus.

Namun, masa lalu Astrid membuatnya terus dihantui rasa takut. Ia sering bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah aku pantas? Apakah aku tidak akan disakiti lagi seperti dulu?”

Suatu malam, Astrid duduk termenung di kamar. Ibunya memperhatikan lalu bertanya, “Ada apa, Nak? Wajahmu terlihat gelisah.”

Astrid menunduk, lalu berkata pelan, “Bu… ada seseorang yang baik padaku. Tapi aku takut membuka hati lagi. Aku takut dikhianati seperti dulu.”

Sang ibu tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan Astrid. “Nak, tidak semua orang seperti kakakmu. Tidak semua orang akan menyakitimu. Kalau kamu terus menutup hati, kamu tidak akan pernah tahu siapa yang benar-benar tulus. Percayalah, Tuhan selalu memberi kesempatan kedua untuk bahagia.”

Kata-kata itu menenangkan Astrid. Malam itu ia memutuskan, jika memang Aditya serius, ia akan mencoba memberi kesempatan.

Dan kesempatan itu datang lebih cepat dari yang ia kira.

Suatu hari, Aditya mengajak Astrid berbicara di taman kecil belakang kantor. Angin sore berhembus lembut, daun-daun berguguran, menciptakan suasana tenang.

“Astrid,” ucap Aditya sambil menatapnya serius, “saya tahu ini mungkin terdengar aneh. Tapi selama ini, setiap kali berbicara denganmu, saya merasakan ketulusan yang berbeda. Kamu tidak pernah memandang saya karena posisi atau harta, dan itu sangat berarti bagi saya.”

Astrid menelan ludah. Hatinya berdegup kencang.

“Saya… jatuh hati padamu, Astrid,” lanjut Aditya. “Saya ingin mengenalmu lebih dalam, bukan sebagai karyawan dan atasan, tapi sebagai dua orang yang sama-sama mencari kebahagiaan.”

Astrid terdiam lama. Air matanya hampir jatuh. Ia tidak menyangka seorang pria seperti Aditya bisa berkata demikian kepadanya. Dengan suara bergetar, ia menjawab, “Pak… saya hanya seorang wanita biasa. Saya pernah jatuh, pernah gagal, bahkan sempat kehilangan segalanya. Saya takut kalau saya tidak pantas untuk Bapak.”

Aditya menggeleng. “Justru karena kamu pernah jatuh dan bangkit lagi, kamu pantas mendapatkan kebahagiaan. Jangan pernah meragukan itu.”

Astrid tidak mampu berkata apa-apa lagi. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan hatinya kembali percaya pada cinta.

Hubungan mereka berjalan pelan tapi pasti. Aditya selalu menjaga sikap, tidak pernah membuat Astrid merasa direndahkan. Mereka sering berbicara tentang hal-hal sederhana: makanan favorit, mimpi masa kecil, hingga ketakutan-ketakutan mereka.

Sampai akhirnya, di sebuah makan malam sederhana di restoran kecil favorit Astrid, Aditya mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin.

“Astrid,” katanya sambil menatap mata wanita itu dengan tulus, “maukah kamu menikah denganku? Aku tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tapi aku berjanji akan selalu melindungi dan mencintaimu.”

Astrid terisak. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia mengangguk pelan, “Iya… saya mau.”

Hari pernikahan mereka menjadi momen yang menggetarkan hati semua orang. Tidak ada pesta mewah dengan tamu ribuan. Aditya sengaja membuat pernikahan itu sederhana, hanya dihadiri keluarga, kerabat dekat, dan beberapa rekan kerja.

Astrid tampil anggun dengan kebaya putih sederhana, sementara Aditya tampak gagah dengan setelan jas hitam. Saat ijab kabul terucap, Astrid merasakan seluruh luka masa lalunya seakan disembuhkan dalam sekejap.

Ia kini bukan lagi wanita yang ditipu dan dimanfaatkan, bukan lagi wanita yang hampir gila karena kehilangan. Ia adalah wanita yang berhasil bangkit, menemukan cinta sejati, dan berdiri tegak di samping seorang pria yang benar-benar menghargainya.

Di sampingnya, ibunya menitikkan air mata bahagia. “Akhirnya kamu menemukan orang yang tepat, Nak,” bisiknya.

Astrid tersenyum sambil menggenggam tangan ibunya erat. “Iya, Bu. Semua ini untuk Ibu juga.”

Dan di pelukan Aditya, Astrid tahu: perjuangan panjangnya tidak sia-sia. Ia telah melewati badai, dan kini saatnya ia menikmati pelangi.

Pernikahan Astrid dan Aditya menjadi awal babak baru dalam hidup mereka. Setelah ijab kabul yang sakral itu, Astrid merasakan seolah beban berat yang selama ini menekan dadanya terangkat. Kini ia tidak lagi berjalan sendirian. Ada seseorang yang berjanji menggenggam tangannya, baik dalam senyum maupun air mata.

Hari-hari setelah menikah, Astrid masih sering terbangun di pagi hari dengan perasaan tidak percaya. Ia memandang wajah Aditya yang tertidur di sampingnya, lalu berbisik pelan, “Benarkah ini nyata? Aku… yang dulu hampir gila karena hancur, sekarang menjadi istrimu?”

Aditya yang setengah sadar akan menggenggam tangannya. “Jangan ragukan itu lagi, Astrid. Kamu pantas bahagia.”

Rumah tangga mereka sederhana namun penuh kehangatan. Astrid tetap memilih untuk tidak meninggalkan sikap rendah hati yang dulu ia miliki. Meski kini ia istri seorang CEO, ia tetap terbiasa menyiapkan sarapan sendiri, membersihkan rumah, bahkan menyeduhkan kopi untuk Aditya.

“Sayang, kamu kan sudah punya asisten rumah tangga. Tidak usah repot-repot begini,” kata Aditya suatu pagi.

Astrid hanya tersenyum. “Aku melakukan ini bukan karena terpaksa, tapi karena aku ingin. Bagiku, ini caraku menunjukkan cinta.”

Aditya memandangnya dengan kagum. Bagi pria itu, Astrid adalah hadiah terindah dari hidupnya seorang wanita yang tidak terjebak dalam gemerlap dunia, melainkan berakar pada ketulusan hati.

Sementara itu, ibunya Astrid juga ikut tinggal bersama mereka. Sang ibu terlihat jauh lebih tenang. “Aku tidak lagi khawatir meninggalkanmu sendirian, Nak,” ucapnya suatu malam ketika duduk berdua dengan Astrid di beranda rumah. “Kamu sudah menemukan tempatmu yang baru.”

Astrid menggenggam tangan ibunya. “Semua ini karena doa Ibu. Kalau bukan karena Ibu yang selalu mengingatkan aku untuk tidak menyerah, mungkin aku tidak akan sampai di titik ini.”

Namun hidup tidak serta merta berhenti menguji. Beberapa bulan setelah pernikahan, Astrid mendapat kabar bahwa Andin kakak kandung yang dulu menipunya hingga miliaran sedang dalam kesulitan. Usahanya bangkrut, ia dikejar utang, dan hidupnya berantakan.

Ketika kabar itu sampai ke telinga Astrid, ia terdiam lama. Kenangan pahit kembali menyeruak. Air matanya hampir jatuh, bukan karena iba, melainkan karena luka lama itu seakan dibuka kembali.

Aditya yang melihatnya hanya berkata lembut, “Kamu tidak perlu memutuskan sekarang. Tapi ingat, memaafkan bukan berarti membenarkan apa yang dia lakukan. Memaafkan berarti melepaskan dirimu dari belenggu masa lalu.”

Kalimat itu menusuk hati Astrid. Ia butuh waktu beberapa hari sebelum akhirnya memutuskan menemui Andin.

Pertemuan itu berlangsung di sebuah kafe kecil. Andin tampak lusuh, jauh berbeda dari dulu ketika ia begitu angkuh. Begitu melihat Astrid, ia menunduk, tidak berani menatap mata adiknya.

“Astrid… aku tahu aku tidak pantas meminta maaf. Aku sudah menghancurkanmu, memanfaatkanmu, bahkan membuatmu hampir gila. Dan sekarang aku menuai apa yang kutanam.” Suaranya bergetar. “Kalau kamu membenciku seumur hidup pun, aku bisa mengerti.”

Astrid duduk tenang. Hatinya berperang antara marah dan iba. Ia mengingat hari-hari kelamnya dulu, saat dirinya hancur karena ulah kakaknya. Tapi ia juga mengingat perjalanan panjangnya hingga kini.

“Aku tidak akan pernah lupa apa yang kamu lakukan, Kak,” ucap Astrid akhirnya. “Lukanya terlalu dalam. Tapi aku tidak mau hidup dengan membenci selamanya. Aku sudah punya hidupku sendiri sekarang. Aku punya suami, aku punya kebahagiaan. Jadi… aku memilih untuk memaafkanmu, bukan karena kamu pantas dimaafkan, tapi karena aku ingin bebas dari masa lalu.”

Air mata Andin jatuh. “Terima kasih… terima kasih, Astrid.”

Astrid bangkit dari kursinya. “Tapi ingat, aku memaafkan bukan berarti aku akan membiarkanmu lagi masuk ke dalam hidupku seperti dulu. Kalau kamu ingin berubah, lakukan itu untuk dirimu sendiri. Jangan ulangi kesalahanmu.”

Setelah pertemuan itu, Astrid merasa dadanya jauh lebih lega. Ia seakan menutup buku lama yang penuh luka, dan membuka halaman baru yang penuh harapan.

Tahun-tahun berlalu. Astrid tidak hanya menjadi istri seorang CEO, tapi juga kembali menemukan semangat berbisnis. Dengan dukungan Aditya, ia memulai lagi usaha kecil secara online, kali ini dengan strategi yang lebih matang. Bedanya, ia tidak lagi bekerja sendirian. Ia punya tim kecil, ia punya pengalaman, dan yang paling penting, ia punya kepercayaan diri yang ditempa dari penderitaan.

Usahanya perlahan berkembang. Astrid bahkan mulai dikenal sebagai salah satu inspirasi di kalangan wirausaha muda. Banyak orang yang kagum pada kisahnya: seorang wanita yang dulu ditipu keluarganya sendiri hingga kehilangan segalanya, tapi bangkit dan akhirnya meraih sukses dan cinta sejati.

Suatu ketika, Astrid diundang sebagai pembicara di sebuah seminar kewirausahaan. Ia berdiri di panggung, menatap ratusan mata yang tertuju padanya.

Dengan suara mantap, ia berkata, “Saya pernah menjadi orang yang terlalu percaya, sampai-sampai saya dimanfaatkan dan kehilangan miliaran. Saya pernah jatuh, hampir gila karena putus asa. Tapi hari ini saya berdiri di sini, bukan sebagai korban, melainkan sebagai bukti bahwa luka bisa menjadi kekuatan.”

Ruangan itu hening, lalu bergemuruh dengan tepuk tangan. Astrid melanjutkan, “Jangan pernah biarkan masa lalu mendefinisikan siapa diri kita. Jangan biarkan pengkhianatan membuat kita berhenti percaya pada kebaikan. Karena kalau saya berhenti waktu itu, saya tidak akan pernah bertemu dengan suami saya, saya tidak akan pernah memulai kembali bisnis saya, dan saya tidak akan pernah menemukan diri saya yang lebih kuat.”

Di barisan depan, Aditya tersenyum bangga sambil menggenggam tangan ibunya. Ia tahu, Astrid sudah menemukan panggilannya bukan hanya sebagai pebisnis, tapi juga sebagai inspirasi bagi banyak orang.

Malam itu, ketika mereka pulang, Astrid menatap langit penuh bintang. Ia tersenyum sambil menyandarkan kepala di bahu Aditya.

“Dulu aku selalu bertanya, kenapa Tuhan izinkan aku jatuh sedalam itu. Tapi sekarang aku tahu jawabannya,” ucapnya pelan.

“Apa itu?” tanya Aditya.

“Agar aku bisa belajar bangkit. Agar aku bisa tahu siapa yang benar-benar tulus. Dan agar aku sampai di sini, bersamamu.”

Aditya mengecup keningnya lembut. “Dan aku bersyukur Tuhan mempertemukanku denganmu, Astrid.”

Di bawah langit malam itu, Astrid merasa hidupnya akhirnya utuh. Luka masa lalunya tidak lagi menjadi beban, melainkan bagian dari perjalanan yang mengantarkannya pada kebahagiaan sejati.

Dan begitulah, kisah seorang wanita yang dulu dianggap bodoh karena dimanfaatkan kakaknya, berakhir dengan kemenangan. Astrid bukan hanya bangkit, tapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih bahagia.

Pada akhirnya, Astrid belajar bahwa kebodohan di masa lalu bukanlah kutukan, melainkan pelajaran. Ia memang pernah dimanfaatkan kakak kandungnya, kehilangan harta, bahkan hampir kehilangan akal sehatnya. Namun dari luka itulah ia menemukan jalan untuk bangkit, menemukan cinta yang tulus, dan membuktikan bahwa dirinya jauh lebih kuat dari yang ia kira.

Di sisi Aditya, ia hidup bukan hanya sebagai seorang istri CEO, tetapi juga sebagai wanita mandiri yang kembali membangun usahanya sendiri. Ia berdiri tegak, bukan sebagai korban pengkhianatan, melainkan sebagai pemenang kehidupan.

Dan di setiap langkahnya, Astrid selalu berbisik pada dirinya sendiri, “Aku pernah jatuh, tapi aku memilih untuk bangkit. Karena bahagia selalu menanti, bagi mereka yang berani melangkah lagi.”


 Tamat.




Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa